kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Krisis Migas, Jepang Bakal Cabut Sementara Pembatasan Pembangkit Listrik Batubara


Kamis, 26 Maret 2026 / 17:07 WIB
Krisis Migas, Jepang Bakal Cabut Sementara Pembatasan Pembangkit Listrik Batubara
ILUSTRASI. Pemerintah Jepang cabut pembatasan PLTU batubara demi cegah krisis energi.


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA.  Pemerintah Jepang akan mencabut sementara pembatasan operasi pembangkit listrik tenaga batubara untuk menurunkan risiko kekurangan energi karena perang di Timur Tengah yang berdampak pada tercekiknya pasokan minyak dan gas dari Selat Hormuz.

Melansir dari Nikkei Asia, Kamis (26/03/2026) pemerintah Jepang akan mengizinkan pengoperasian penuh pembangkit listrik tenaga batubara yang lebih tua dan kurang efisien, meskipun sebelumnya beroperasi dengan kapasitas terbatas untuk mengurangi emisi CO2, selama satu tahun ke depan mulai April 2026.

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dijadwalkan untuk mempresentasikan proposal tersebut kepada dewan penasihatnya pada Jumat (27/03/2026) waktu setempat dan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi akan mengumumkan keputusan tersebut sebagai langkah untuk menstabilkan pasokan energi, menyusul pelepasan cadangan minyak nasional yang dimulai pada hari ini.

Baca Juga: Futures Saham AS Melemah, Prospek Meredanya Konflik Timur Tengah Masih Buram

Bagi Jepang, batu bara tidak seperti minyak dan LNG (Liquefied Natural Gas) atau gas alam cair yang mayoritas berasal dari Timur Tengah.

Pasokan batubara Jepang berasal dari negara-negara seperti Australia (74,8%), Indonesia (12,8%), dan Kanada (4,1%), sehingga kurang rentan terhadap fluktuasi harga yang disebabkan oleh perang Iran versus Amerika-Israel.

Jepang mendapatkan sekitar 30% dari total pembangkit listriknya dari LNG dan batubara, dengan minyak menyumbang kurang dari 10%. Dengan demikian, pembangkit listrik tenaga termal menyumbang 70% dari total pembangkit.

Secara historis, sebagian besar minyak mentah yang diimpor ke Jepang melewati Selat Hormuz, yang secara efektif telah diblokir setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Meskipun sebagian besar LNG-nya diperoleh melalui kontrak jangka panjang dari sumber di luar kawasan tersebut, masih ada risiko yang terlibat.

Pemerintah Jepang menyatakan dalam strategi energi yang diterbitkan tahun lalu menyatakan secara bertahap menghentikan penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara yang tidak efisien, memperkenalkan peraturan untuk membatasi tingkat pemanfaatan fasilitas tersebut sebesar 50%, sembari mendorong penggantian, penangguhan, atau penonaktifannya.

Jika pembangkit listrik batubara tua diizinkan beroperasi dengan daya penuh, seperti pembangkit listrik yang lebih baru, Jepang dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk mengimbangi penggunaan 530.000 metrik ton LNG setiap tahunnya, setara dengan 13% dari 4 juta ton LNG yang diimpor Jepang melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Dengan adanya krisis minyak dan gas, harga batubara menanjak naik. Harga spot mingguan untuk batubara bermutu tinggi yang dimuat di Pelabuhan Newcastle, Australia, naik menjadi US$ 135 per ton pada hari Senin (23/3/2026), naik 16% dibandingkan sebelum serangan terhadap Iran, mencapai harga tertinggi sejak Desember 2024.

"Dengan pasokan batubara melalui laut yang sudah ketat, peralihan bahan bakar secara bertahap kemungkinan akan langsung berdampak pada dukungan harga," kata Mark Gresswell, pendiri dan direktur Commodity Insights di Australia.

"Jika volatilitas pasar LNG berlanjut hingga musim dingin di belahan Bumi Utara, kombinasi pasokan batubara yang terbatas dan permintaan sektor energi yang lebih kuat akan menciptakan dasar yang kuat, dan berpotensi meningkat, di bawah harga batubara termal melalui laut," tambah Gresswell.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×