Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kinerja laba Robinhood Markets Inc meleset dari ekspektasi analis pada kuartal III-2026. Perlambatan perdagangan aset kripto dan peningkatan beban operasional membayangi pertumbuhan transaksi opsi serta pasar prediksi atau prediction markets.
Mengutip Reuters, Selasa (27/10/2026), saham platform perdagangan yang berbasis di Menlo Park, California, Amerika Serikat (AS) tersebut turun 7% dalam perdagangan setelah jam bursa atau after-hours trading.
Baca Juga: Yield US Treasury Tenor 10 Tahun Mendekati 5%, Pasar Menanti The Fed
Robinhood membukukan laba sebesar US$ 0,51 per saham pada kuartal III-2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan estimasi analis yang dihimpun LSEG sebesar US$ 0,55 per saham.
Tekanan utama berasal dari penurunan pendapatan transaksi aset kripto. Pendapatan berbasis transaksi kripto Robinhood merosot 55% secara tahunan menjadi US$ 120 juta.
Pasar kripto menghadapi tekanan sepanjang tahun ini di tengah volatilitas tinggi dan arus dana keluar yang berkelanjutan.
Tekanan inflasi serta suku bunga yang lebih tinggi juga membuat obligasi dan instrumen investasi tradisional lainnya lebih menarik dibandingkan aset spekulatif.
Bitcoin, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, bahkan sempat turun hingga 8% sepanjang tahun berjalan. Ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak turut meningkatkan ketidakpastian pasar.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed dan Bank Sentral Global
Pasar prediksi dan opsi menopang pendapatan
Meski transaksi kripto melemah, pendapatan transaksi Robinhood secara keseluruhan masih tumbuh sekitar 19% menjadi US$ 867 juta.
Pertumbuhan tersebut ditopang pendapatan dari kontrak berbasis peristiwa atau event contracts yang meningkat lebih dari enam kali lipat. Sementara itu, pendapatan transaksi opsi atau options naik 31%.
Namun, pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat dibandingkan peningkatan jumlah kontrak perdagangan memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan ekspansi bisnis perusahaan.
Kepala Riset REX Financial Bill Birmingham menilai, pertumbuhan pasar prediksi berpotensi lebih banyak berasal dari aktivitas pedagang aktif yang sudah menjadi pengguna Robinhood, bukan dari akuisisi pelanggan baru.
Menurut dia, sebagian volume transaksi di pasar prediksi kemungkinan merupakan peralihan dari aktivitas perdagangan yang sudah ada, bukan sepenuhnya tambahan bisnis baru.
Di sisi lain, Chief Financial Officer Robinhood Shiv Verma menegaskan bahwa pasar prediksi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan penting perusahaan.
Verma mengatakan, bisnis pasar prediksi Robinhood telah mencapai skala pendapatan tahunan hampir US$ 500 juta, meskipun usianya belum genap dua tahun sejak diperkenalkan pada awal masa pemilihan umum AS 2024.
Dia menambahkan, perdagangan kontrak berbasis peristiwa olahraga maupun nonolahraga sama-sama tumbuh kuat. Kontrak nonolahraga bahkan menyumbang porsi yang lebih besar terhadap total volume transaksi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Hampir US$ 2, Brent Masih di Atas US$ 113
Beban operasional meningkat
Di tengah tekanan pendapatan kripto, beban operasional Robinhood meningkat 16% menjadi US$ 739 juta dalam tiga bulan yang berakhir pada 30 September 2026.
Kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan pencadangan kerugian kredit, pengeluaran untuk pengembangan bisnis baru seperti Trump Accounts dan Rothera, serta biaya pemasaran yang lebih tinggi.
Kombinasi antara penurunan pendapatan transaksi kripto dan peningkatan biaya tersebut membuat laba perusahaan tidak mampu memenuhi ekspektasi pasar.
Ke depan, investor akan mencermati kemampuan Robinhood mempertahankan pertumbuhan dari bisnis opsi dan pasar prediksi, sekaligus mengendalikan biaya operasional di tengah volatilitas pasar aset kripto.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1%, Investor Menanti Keputusan The Fed














