Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury bergerak naik tipis pada perdagangan Selasa (27/10/2026).
Investor cenderung berhati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sembari mencermati risiko inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi AS.
Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun naik 2,4 basis poin (bps) menjadi 4,735%.
Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik tipis 0,2 bps ke level 4,988%. Adapun imbal hasil tenor 30 tahun tidak berubah di posisi 5,301%.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed dan Bank Sentral Global
Pergerakan tersebut berlangsung dalam rentang terbatas setelah gejolak pasar pada pekan sebelumnya.
Harga obligasi pemerintah AS sempat melonjak dan imbal hasilnya turun ketika kekhawatiran terhadap keberlanjutan lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual saham dan meningkatkan permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman.
Pada Kamis pekan lalu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir empat tahun setelah pasar saham melemah.
Kepala Ekonom AS Jefferies Thomas Simons mengatakan, narasi pasar mulai bergeser ke kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Namun, menurut dia, kondisi ekonomi AS masih relatif kuat, sementara risiko kenaikan inflasi lebih besar dibandingkan perkiraan pasar terhadap arah kebijakan The Fed.
Simons menilai, kenaikan harga obligasi yang sempat menekan imbal hasil tenor panjang berpotensi berbalik arah dalam waktu dekat.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Hampir US$ 2, Brent Masih di Atas US$ 113
Pasar menanti keputusan The Fed
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada akhir rapat kebijakan yang dijadwalkan selesai pada Rabu (28/10/2026).
Meski demikian, kekhawatiran inflasi membuat investor belum yakin bahwa jeda kenaikan suku bunga akan berlangsung lama.
Bank sentral AS telah menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya dalam tiga tahun sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang meningkat.
Harga minyak yang lebih tinggi akibat perang AS-Israel dengan Iran turut memperbesar kekhawatiran inflasi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.
Namun, harga minyak mulai turun pada perdagangan Selasa, sehingga memberikan sedikit ruang bagi meredanya tekanan inflasi.
Data CME FedWatch menunjukkan, kontrak berjangka suku bunga pada Selasa memperhitungkan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Di sisi lain, pasar memperkirakan peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember.
Managing Director Mischler Financial Group Tom di Galoma mengatakan, pasar juga menghadapi tekanan dari pasokan obligasi baru dan rangkaian rapat bank sentral pekan ini.
Selain The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Kamis, dengan ekspektasi suku bunga tetap.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1%, Investor Menanti Keputusan The Fed
Data ekonomi dan belanja AI jadi perhatian
Pergerakan imbal hasil obligasi AS turut dipengaruhi data pesanan barang tahan lama. Data tersebut menunjukkan pesanan baru untuk barang modal utama buatan AS meningkat pada September, mengindikasikan belanja yang didorong perkembangan AI masih berlanjut.
Investor juga menantikan laporan keuangan perusahaan teknologi besar, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon.com. Microsoft dan Alphabet dijadwalkan merilis kinerja setelah penutupan perdagangan pada Rabu.
Pelaku pasar semakin mencermati keberlanjutan investasi AI yang dibiayai utang di tengah meningkatnya biaya pinjaman.
Investor juga mencari bukti bahwa investasi besar di sektor tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan bisnis.
Meta Platforms menjadi salah satu pusat tekanan pasar saham pada pekan sebelumnya setelah perusahaan induk Facebook tersebut menyampaikan rencana penerbitan kelas saham baru, antara lain untuk mendanai belanja modal lanjutan.
Baca Juga: Netanyahu Serukan Pendukungnya Bergerak ke TPS, Partisipasi Pemilih Arab Melonjak
Langkah tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan ekspansi AI.
Sementara itu, selisih imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun dan dua tahun tercatat positif sebesar 25,1 bps. Selisih tersebut menyempit ke level paling rendah dalam sekitar satu bulan terakhir.
Indikator ekspektasi inflasi berbasis obligasi pemerintah AS juga masih menunjukkan tekanan. Tingkat breakeven US Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun berada di 2,461%, naik dari penutupan Senin sebesar 2,455%.
Untuk tenor 10 tahun, tingkat breakeven tercatat 2,351%, mengindikasikan pasar memperkirakan inflasi rata-rata sekitar 2,4% per tahun selama satu dekade mendatang.














