Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Selasa (27/10/2026).
Penguatan ini terjadi ketika investor bersiap menghadapi rangkaian keputusan suku bunga bank sentral global yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter dan prospek ekonomi.
Mengutip Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama naik 0,27% ke level 102,29.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Hampir US$ 2, Brent Masih di Atas US$ 113
Euro melemah 0,33% terhadap dolar AS ke posisi US$ 1,1136. Pound sterling juga turun 0,19% menjadi US$ 1,3317. Sementara itu, dolar AS menguat 0,24% terhadap yen Jepang ke level 157,90 yen.
FX and Macro Strategist Convera Kevin Ford mengatakan, dolar kembali menguat menjelang rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Sentimen terhadap saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga mulai stabil setelah mengalami tekanan pada pekan sebelumnya.
Menurut Ford, dolar sempat tertekan akibat kombinasi gejolak pasar saham, kenaikan harga minyak, dan kekhawatiran fiskal di Eropa, terutama terkait kondisi keuangan pemerintah Prancis.
Namun, perkembangan pasar belakangan ini meredakan sebagian tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1%, Investor Menanti Keputusan The Fed
Investor menanti keputusan bank sentral
The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu (28/10/2026).
Selanjutnya, Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) akan mengumumkan keputusan pada Kamis (29/10/2026), disusul Bank of Japan (BOJ) pada Jumat (30/10/2026).
Ketiga bank sentral tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan. Karena itu, investor akan mencermati pernyataan para pejabat bank sentral untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya.
Analis Bank of America yang dipimpin Mark Cabana menilai, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga dengan pernyataan yang cenderung dovish atau akomodatif berpotensi menekan dolar secara signifikan.
Baca Juga: Netanyahu Serukan Pendukungnya Bergerak ke TPS, Partisipasi Pemilih Arab Melonjak
Sebaliknya, pernyataan yang lebih hawkish atau mengisyaratkan kebijakan ketat diperkirakan memberikan dampak yang lebih terbatas terhadap pergerakan mata uang tersebut.
Di kawasan Eropa, euro berada di jalur untuk menjadi mata uang negara maju dengan kinerja terburuk sepanjang Oktober. Euro telah melemah 1,70% terhadap dolar AS pada bulan ini.
Tekanan terhadap euro berasal dari tingginya biaya energi, volatilitas obligasi pemerintah Prancis, serta kekhawatiran mengenai kondisi fiskal negara tersebut.
Euro juga kembali melemah setelah survei pinjaman perbankan kuartalan ECB menunjukkan dampak kenaikan suku bunga mulai terlihat.
Jika tren tersebut berlanjut, tekanan bagi ECB untuk melanjutkan kenaikan suku bunga hingga jauh memasuki 2027 berpotensi berkurang.
Baca Juga: Kylian Mbappe Minta Maaf kepada Warga China atas Komentar soal Mao Zedong
Jepang siapkan langkah stabilisasi yen
Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil langkah tegas di pasar valuta asing.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa otoritas Jepang masih memiliki kesiapan untuk menopang yen.
Pada pekan sebelumnya, yen termasuk mata uang utama dengan kinerja terbaik setelah menguat sekitar 0,75% terhadap dolar AS.
Penguatan tersebut menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak awal September, seiring meningkatnya minat investor terhadap yen di tengah kekhawatiran pasar saham terkait AI.
Selain The Fed, ECB, dan BOJ, investor juga mencermati keputusan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) serta Bank of Canada (BoC) pada Rabu. Kedua bank sentral tersebut diperkirakan menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Apple Luncurkan MacBook Pro dan iMac dengan Chip M6, Segini Harganya
Dolar Selandia Baru naik tipis 0,08% terhadap dolar AS menjadi US$ 0,569. Sebaliknya, dolar Kanada melemah 0,27% ke level C$ 1,405 per dolar AS.
Rangkaian keputusan bank sentral pekan ini diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan mata uang global, terutama melalui sinyal mengenai prospek inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan ruang penyesuaian suku bunga ke depan.














