Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sydney semakin matang sebagai metropolitan, tetapi ketersediaan lahan untuk rumah tapak di kawasan suburban yang dekat pusat kota semakin terbatas. Pengembangan landed housing kini bergeser ke wilayah barat, barat daya, dan selatan, sementara kawasan timur dan pusat lebih diarahkan untuk hunian vertikal.
Kelangkaan ini bersifat struktural karena Sydney dibatasi oleh Samudra Pasifik di timur serta berbagai taman nasional dan kawasan lindung di utara, selatan, dan barat. Di area sekitar 30 menit dari Sydney Harbour, sebagian besar lahan telah terurbanisasi dan lahan kosong berskala besar semakin sulit ditemukan.
“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” ungkap Chandra Leonardi, Director & CEO Capital Value International Group (CVIG) dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Akibatnya, Sydney semakin mengandalkan infill development, urban renewal, dan densifikasi vertikal di kawasan seperti Parramatta dan Macquarie Park. Sementara itu, ekspansi ke kawasan yang lebih jauh seperti Penrith, Wilton, dan Marsden Park menimbulkan tantangan berupa jarak, waktu tempuh, dan kebutuhan infrastruktur yang lebih besar.
Baca Juga: Pasar Properti Australia Melambat, Pengajuan KPR di NAB Merosot
Bagi pembeli asing, pilihan properti di Sydney lebih terbatas karena umumnya hanya dapat mengakses properti baru dan proyek off-the-plan. Ketika lahan baru semakin langka dan akses terhadap properti existing juga terbatas, faktor kelangkaan menjadi semakin penting dalam menentukan nilai investasi.
Bagi pembeli Indonesia, kata Chandra, kawasan premium seperti CBD, Eastern Suburbs, dan Northern Beaches memang menarik, tetapi harga yang tinggi mendorong pencarian alternatif di kawasan suburban yang menawarkan aksesibilitas, lingkungan hunian yang baik, dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Menurut Chandra, Roselands di barat daya Sydney bisa menjadi pilihan yang ingin mencari rumah tapak. Ini merupakan salah satu kawasan yang belum banyak dibidik, namun memiliki fundamental yang menarik bagi pembeli properti Indonesia yang ingin memiliki rumah tapak di Sydney.
Berjarak sekitar 20–30 menit dari Sydney CBD, kawasan Roselands memiliki karakter residensial yang kuat dan komunitas keluarga, sehingga menawarkan alternatif bagi pembeli yang menginginkan rumah tapak di lingkungan yang lebih tenang namun tetap relatif dekat dengan pusat kota.
Chandra bilang, di tengah semakin terbatasnya lahan hunian di Sydney, kawasan Roselands menawarkan kombinasi yang semakin langka, yakni rumah tapak di kawasan metropolitan, komunitas keluarga yang kuat, konektivitas baik, serta pasokan properti yang relatif terbatas. Faktor-faktor tersebut menjadi fondasi bagi potensi pertumbuhan nilai properti dalam jangka panjang.
Roselands merupakan kawasan suburban yang didominasi hunian, dengan pusat aktivitas komersial di Roselands Shopping Centre. Dari sisi konektivitas, kawasan ini didukung jaringan bus, akses kereta, serta jalan tol M5 dan M8. “Kemudahan mobilitas dan akses terhadap fasilitas sehari-hari menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik kawasan bagi penghuni sekaligus menopang permintaan properti,” kata Chandra.
Baca Juga: Boom Properti Australia Mulai Berakhir, Harga Rumah Turun Paling Dalam 3,5 Tahun
Fundamental tersebut diperkuat karakter demografi kawaasan Roselands. Lebih dari 53% rumah dihuni pasangan dengan anak, sementara sekitar 70% penduduk merupakan pemilik rumah dan 30% penyewa. Komposisi ini menunjukkan bahwa permintaan properti tidak hanya berasal dari investor, tetapi juga dari keluarga yang menjadikan Roselands sebagai tempat tinggal jangka panjang.
Tingginya proporsi owner-occupier juga membuat basis permintaan cenderung lebih stabil. Di sisi lain, Roselands tergolong tightly held market, dengan banyak pemilik mempertahankan propertinya dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat pasokan rumah yang tersedia di pasar relatif terbatas.
Bagi investor, kombinasi permintaan keluarga yang konsisten, tingginya tingkat kepemilikan rumah, dan terbatasnya pasokan menciptakan dinamika supply-demand yang menarik. Ketika kebutuhan terhadap hunian tetap kuat sementara jumlah properti yang ditawarkan terbatas, persaingan terhadap aset yang tersedia berpotensi meningkat.
“Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti tapak di kawasan metropolitan dengan akses relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang kuat,” ujar Chandra.














