kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45749,52   23,69   3.26%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mampukah Dukungan Sanders untuk Biden Kalahkan Trump di Pilpres AS?


Kamis, 09 April 2020 / 18:18 WIB
Mampukah Dukungan Sanders untuk Biden Kalahkan Trump di Pilpres AS?
ILUSTRASI. Kandidat Pilpres AS Bernie Sanders telah menyatakan mundur dari kontestasi dan memberi dukungan terhadap Joe Biden.

Sumber: DW.com | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - DW. Dengan mundurnya salah satu kandidat Pilpres AS Bernie Sanders pada Rabu (08/04), maka kontestasi akan menjadi milik presiden petahana Donald Trump dan mantan wakil presiden Joe Biden.

Namun, Sanders telah menyatakan sikap untuk tetap menggunakan hak pilihnya dan mendukung Joe Biden, serta menyusun cara terbaik untuk mengalahkan Trump.

Dalam pertarungan ketat melawan Trump, Biden disebut membutuhkan sebagian besar kekuatan Sanders. Dalam sebuah pernyataan, Biden memuji Sanders karena menaruh perhatian pada ketidakadilan dan ketidaksetaraan untuk menciptakan gerakan berdasarkan gagasan.

"Senator Sanders dan para pendukungnya telah mengubah dialog di Amerika," kata Biden.

Biden juga berjanji untuk mendengarkan pendukung Sanders, dan meminta mereka untuk mendukung kampanyenya. "Aku harap kalian akan bergabung dengan kami. Kami senang menerima kalian. Kalian dibutuhkan,‘‘ ujar Biden.

Sanders telah berulang kali bersumpah untuk mendukung Demokrat melawan Trump, yang sering disebutnya sebagai "presiden paling berbahaya dalam sejarah Amerika." Sanders, seorang senator dari Vermont, sebelumnya maju sebagai kandidat presiden AS dengan mengusung gagasan bahwa jaminan kesehatan seharusnya tersedia untuk semua orang di Amerika Serikat.

Dalam pertarungan Trump melawan Biden, pemilih AS akan dihadapkan pada dua gagasan yang sangat berbeda dari kedua kandidat yakni tentang kepedulian untuk jaminan kesehatan, perubahan iklim, kebijakan luar negeri, dan kepemimpinan di era keberpihakan ekstrem.

Trump coba tarik suara pendukung Sanders

Dalam cuitannya di Twitter, Trump berusaha menarik pendukung Sanders masuk ke pihaknya. Saat konferensi pers, Trump mengatakan bahwa ia dan Sanders mempunyai pandangan yang sama tentang perdagangan global.

"Pendukung Bernie harus bergabung ke Partai Republik,‘‘ cuit Trump.

Trump juga mencoba menimbukan kecurigaan terhadap Biden tentang mengapa Obama belum mendukung mantan wakil presidennya tersebut, dengan mengatakan ‘‘Kapan itu akan terjadi? Mengapa dia belum mendukung? Dia (Obama) mengetahui sesuatu yang Anda tidak tahu.‘‘

Namun, mantan presiden biasanya tidak melibatkan diri dalam proses utama kontestasi Pilpres dan Obama disebut sudah lama bersikeras bahwa dia tidak akan terlibat sampai calon terpilih.

Juru bicara kampanye Trump, Tim Murtaugh menggambarkan bahwa Biden adalah orang yang terlalu liberal bagi mayoritas orang Amerika, terbebani oleh pertanyaan-pertanyaan seputar urusan bisnis luar negeri putranya dan mempertanyakan ketajaman mentalnya di usia yang telah mencapai 77 tahun.

Brad Parscale, manajer kampanye Trump, meramalkan Trump akan "menghancurkan" Biden, yang dijuluki ‘‘Sleepy Joe‘‘ oleh Trump dan sekutunya.

Perhatian publik terhadap Demokrat belum menyamai Trump

Demokrat menilai Trump terlalu lamban dalam penanganan pandemi COVID-19, yang kini menyebabkan ratusan orang Amerika meninggal setiap harinya dan menutup jutaan pekerjaan.

Namun tujuh bulan menuju Pilpres AS yang akan diselenggarakan pada 3 November mendatang, Demokrat disebut belum mampu menyamai perhatian yang dapat dibuat oleh Trump. Untuk saat ini, baik Biden maupun Trump juga mengalami keterbatasan gerak layaknya seluruh orang Amerika di masa pandemi.

Tim pemenangan Biden menyarankan empati dan pengalaman Biden sangat tepat untuk momen seperti ini. Namun Biden berjuang agar suaranya bisa didengar lebih luas oleh publik dari studio buatan di kediamannya di Delware.

Tim Biden telah berkomitmen untuk setidaknya menyajikan satu acara virtual setiap hari, sementara Trump melakukannya setiap hari lewat konferensi pers di Gedung Putih tentang pandemi COVID-19 yang lebih banyak dilihat warga Amerika.

Demokrat juga dihadapkan pada dua keadaan yang saling bertentangan, yakni menyerang Trump secara agresif sekarang dan berisiko dihadapkan pada tuduhan bahwa Partai Demokrat menggunakan bencana pandemi COVID-19 untuk alasan politik atau menunggu sampai keadaan masyarakat mulai normal.

Ketua konsultan Partai Demokrat Jim Margolis mengatakan pandemi ini mungkin memberi Trump waktu untuk mendefinisikan dirinya sebagai ‘presiden di masa perang‘ yang mampu melawan virus yang melanda dunia.

‘‘Tapi Demokrat harus berhati-hati untuk tidak melakukannya secara serampangan menyerang pemerintah atau terlihat seperti pihak yang sedang memanfaatkan krisis untuk bermain politik,‘‘ ujar Margolis.

Sementara Ketua Komite Nasional Partai Demokrat Tom Perez berkata ‘‘saya percaya diri karena nilai-nilai Joe Biden mencerminkan nilai-nilai mayoritas orang Amerika yang bisa kami menangkan.‘‘

 



TERBARU

[X]
×