kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Manufaktur China Masih Berlanjut Kontraksi


Jumat, 01 Maret 2024 / 23:30 WIB
Manufaktur China Masih Berlanjut Kontraksi
ILUSTRASI. Employees work at a hot rolling plant during a government-organised media tour to Baoshan Iron & Steel Co., Ltd. (Baosteel), a subsidiary of China Baowu Steel Group, in Shanghai, China September 16, 2022. REUTERS/Aly Song


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas manufaktur China pada Februari mengalami kontraksi. Ini merupakan penurunan berlanjut selama lima bulan berturut-turut, meningkatkan tekanan terhadap pemerintah China untuk merilis stimulus lebih lanjut guna mendorong pesanan pada pabrik-pabrik. 

Biro Statistik Nasional (NBS) mencatatkan, Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi China pada Februari ada di level 49,1, turun dari  49,2% pada Januari. Indeks di bahwa angra 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mengalami kontraksi. 

Penurunan tersebut juga tak lepas dari faktor musiman. Tahun baru Imlek yang jatuh pada 10 Februari tahun ini menyebabkan banyak pabrik tutup karena para pekerja libur untuk mudik. 

Dan Wang, Kepala Ekonom Hang Seng Bank China mengakui bahwa faktor Imlek memainkan peranan penting dalam penurunan itu. Namun, ia menekankan bahwa penyebab utamanya adalah kontraksi tajam pesanan asing baru. 

“Melemahnya permintaan dari luar negeri tampaknya merupakan fenomena permanen, bukan fenomena sementara karena perlambatan ekonomi di pasar negara maju serta relokasi rantai pasokan dalam negeri,” kata dia dilansir Reuters, Jumat (1/3).

Baca Juga: China: Beijing dan Moskow Harus Memperkuat Koordinasi di Asia Pasifik

Pesanan ekspor baru telah menyusut selama 11 bulan bertutut-turut menurut PMI manufaktur NBS. Lapangan kerja di sektor pabrik juga mengalami penurunan. Ini mencerninkan bahwa tekanan pada dunia usaha terus berlanjut. 

Pemulihan ekonomi China yang mengecewakan paska Covid-19 telah menimbulkan keraguan terhadap fondasi model ekonomi negara ini dan memicu ekspektasi  bahwa para pembuat kebijakan perlua mempertimbangkan reformasi yang lebih berani untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. 

Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini telah bergulat dengan pertumbuhan di bawah standar selama setahun terakhir di tengah krisis properti, penundaan belanja oleh konsumen, adanya divestasi yang dilakukan perusahaan asing, dan pemerintah daerah dihadaptkan dengan beban utang yang sangat besar.

Sementara itu, PMI non-manufaktur resmi, yang mencakup jasa dan konstruksi, naik menjadi 51,4 dari 50,7 pada bulan Januari, menandai angka tertinggi sejak September tahun lalu, berkat aktivitas yang kuat selama liburan Imlek. 

Para pengambil kebijakan telah berjanji untuk melakukan langkah-langkah lebih lanjut untuk membantu menopang pertumbuhan setelah langkah-langkah yang diterapkan sejak bulan Juni hanya memberikan dampak yang kecil.

Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) memangkas rasio persyaratan cadangan (RRR) perbankan sebesar 50 basis poin pada 5 Februari, yang merupakan penurunan terbesar dalam dua tahun terakhir, dengan melepaskan likuiditas jangka panjang sebesar 1 triliun yuan.




TERBARU

[X]
×