kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.732   24,00   0,14%
  • IDX 6.492   -34,08   -0,52%
  • KOMPAS100 846   -3,06   -0,36%
  • LQ45 640   -4,37   -0,68%
  • ISSI 228   -0,16   -0,07%
  • IDX30 357   -2,52   -0,70%
  • IDXHIDIV20 434   -2,36   -0,54%
  • IDX80 96   -0,47   -0,48%
  • IDXV30 121   -0,49   -0,40%
  • IDXQ30 113   -0,81   -0,71%

Maskapai Murah di Asia Tenggara Mulai Tertekan, Terjepit Harga BBM dan Daya Beli


Senin, 24 Agustus 2026 / 13:00 WIB
Maskapai Murah di Asia Tenggara Mulai Tertekan, Terjepit Harga BBM dan Daya Beli
ILUSTRASI. Indonesia Airlines (Dok/Calypte Holding)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Maskapai berbiaya rendah alias low-cost carrier (LCC) di Asia Tenggara berharap tekanan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah mulai mereda. Namun, maskapai kawasan tersebut masih menghadapi paruh kedua 2026 yang berat karena margin keuntungan tertekan dan daya beli rumah tangga yang melemah mengancam permintaan perjalanan.

Sejumlah eksekutif dan analis industri penerbangan mengatakan, hasil kinerja terbaru menunjukkan maskapai belum mampu sepenuhnya mengalihkan kenaikan biaya bahan bakar kepada penumpang melalui kenaikan harga tiket.

Kinerja kuartal terbaru dari AirAsia Malaysia, Scoot yang merupakan anak usaha berbiaya rendah Singapore Airlines, serta Cebu Pacific dari Filipina menunjukkan tekanan tersebut. AirAsia dan Cebu Pacific mencatat kerugian bersih, sementara kerugian operasional Scoot hampir berlipat ganda.

Baca Juga: Harga Emas Sentuh Level Tertinggi 3 Bulan Menjelang Rilis Data Inflasi AS

Kondisi ini memperlihatkan tantangan utama dalam model bisnis maskapai berbiaya rendah. Bahan bakar menyumbang porsi biaya yang lebih besar dibandingkan maskapai layanan penuh. Namun, penumpang LCC cenderung lebih sensitif terhadap harga sehingga ruang maskapai untuk menaikkan tarif menjadi terbatas tanpa berisiko menekan permintaan.

Tekanan juga diperparah pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia, baht Thailand, rupiah Indonesia dan peso Filipina melemah terhadap dolar AS sehingga meningkatkan biaya bahan bakar dan sewa pesawat yang umumnya dibayarkan dalam mata uang AS.

CEO Cebu Pacific Mike Szucs mengatakan kuartal II-2026 menjadi lingkungan operasional paling sulit yang dihadapi maskapainya sejak pandemi berakhir.

Biaya bahan bakar Cebu Pacific lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dampaknya semakin besar karena peso Filipina melemah sekitar 8%.

Untuk mengurangi risiko kenaikan harga bahan bakar dalam waktu dekat, Cebu Pacific telah melakukan lindung nilai atau hedging sekitar 30% kebutuhan bahan bakar kuartal III-2026 pada harga di bawah US$120 per barel.

Maskapai LCC Hadapi Paruh Kedua yang Berat

Menurut Nathan Gee, Head of Asia-Pacific Transportation Research di BofA Global Research, maskapai layanan penuh relatif lebih terlindungi karena masih menikmati permintaan kuat dari penumpang premium pascapandemi.

Sebaliknya, maskapai berbiaya rendah memperoleh manfaat yang lebih terbatas karena produk yang lebih sederhana dan program loyalitas yang lebih kecil.

AirAsia bahkan bersiap menghadapi kuartal III yang lemah. Periode tersebut secara historis merupakan salah satu periode dengan permintaan perjalanan regional paling rendah.

Baca Juga: Thailand Usulkan Pajak Perdagangan Emas, Buka Diskusi dengan Asosiasi

Maskapai berencana memangkas kapasitas kursi sekitar 20%-25% secara tahunan pada kuartal III. AirAsia juga akan mengembalikan 25 pesawat lama kepada perusahaan penyewa sepanjang 2026 dan menghentikan sementara rute Sydney-Kuala Lumpur mulai Oktober sebagai bagian dari penyesuaian jaringan penerbangannya.

CEO AirAsia Bo Lingam mengatakan perusahaan mengambil pendekatan yang terukur dan taktis untuk melindungi kinerja keuangan setelah harga rata-rata bahan bakar jet mencapai US$183 per barel pada kuartal II.

AirAsia juga mencatat kerugian valuta asing sekitar US$82 juta pada periode tersebut.

Meski demikian, Lingam mengatakan AirAsia berharap dapat mengembalikan kapasitas penerbangan ke level sebelum perang pada kuartal IV. Pemesanan penerbangan untuk periode mendatang juga disebut masih sejalan dengan tahun lalu.

Berbeda dengan AirAsia, Scoot masih menambah kapasitas karena permintaan penumpang tetap kuat. Namun, kenaikan biaya menjadi masalah.

Biaya per unit penumpang Scoot meningkat 21,7% dalam tiga bulan hingga Juni 2026. Kondisi tersebut membuat kerugian operasional membengkak menjadi S$32 juta atau sekitar US$25,2 juta, dari S$17 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan biaya tersebut terjadi meskipun Scoot telah menaikkan tarif dan mendapatkan perlindungan melalui program lindung nilai bahan bakar dari induknya, Singapore Airlines.

Baca Juga: Daftar Perusahaan dengan Pendapatan Terbesar di Dunia 2026

Lonjakan biaya juga membuat tingkat keterisian impas (break-even load factor) Scoot mencapai 100%. Artinya, maskapai harus mengisi seluruh kursinya untuk menutup biaya operasional penumpang. Padahal, tingkat keterisian aktual hanya mencapai 90,6%.

Chief Commercial Officer Scoot Calvin Chan mengatakan penyesuaian tarif belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan harga bahan bakar. Konflik di Timur Tengah juga masih membayangi prospek bisnis maskapai.

Harga BBM Turun Belum Tentu Jadi Kabar Baik

Penurunan harga bahan bakar memang dapat mengurangi tekanan biaya maskapai. Namun, menurut Gee, kondisi tersebut juga dapat memicu maskapai mengembalikan kapasitas penerbangan dan bersaing lebih agresif melalui penurunan harga tiket.

Rute-rute di kawasan Asia menjadi salah satu segmen yang paling rentan terhadap kondisi tersebut. Pasokan pesawat berbadan sempit (narrowbody) disebut pulih lebih cepat dibandingkan pesawat berbadan lebar (widebody), sehingga tambahan kapasitas berpotensi berhadapan dengan permintaan yang lebih lemah.

Analis penerbangan independen Brendan Sobie juga memperingatkan bahwa tekanan terhadap anggaran rumah tangga dapat mengurangi perjalanan masyarakat kelas menengah Asia Tenggara pada sisa tahun ini, termasuk selama musim puncak perjalanan.

"Prospek jangka pendek cukup suram. Meski ada harapan perbaikan pada kuartal IV, masih terlalu dini untuk benar-benar mengukurnya," ujar Sobie.

Dengan demikian, maskapai berbiaya rendah Asia Tenggara masih harus menghadapi kombinasi tekanan biaya bahan bakar, pelemahan mata uang, persaingan tarif dan daya beli konsumen yang belum sepenuhnya pulih. Harapan pemulihan pada kuartal IV menjadi salah satu faktor utama yang kini dinantikan industri penerbangan kawasan tersebut.

Baca Juga: Infantino vs Presiden Concacaf: Konflik Kekuasaan FIFA Makin Panas




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×