Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Senin (24/8/2026), didukung pelemahan dolar AS. Sementara perhatian beralih ke data inflasi AS dan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang dijadwalkan minggu ini.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.641,27 per ons pada pukul 04.27 GMT, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 15 Mei di awal sesi. Harga emas telah naik lebih dari 5% pada minggu lalu.
Harga emas berjangka AS naik tipis 0,4% menjadi US$ 4.697,70.
Nilai tukar dolar yang tidak stabil bergerak di dekat level terendah dalam beberapa bulan di tengah pasar yang gelisah akibat janji Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali lebih banyak obligasi jangka panjang.
Baca Juga: Thailand Usulkan Pajak Perdagangan Emas, Buka Diskusi dengan Asosiasi
Dolar AS yang lebih lemah membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
"Emas tampak bergairah di awal pekan dan kembali diminati pembeli, terutama karena dolar yang melemah, serta berfokus pada sinyal dari imbal hasil (yield) yang lebih tinggi mengenai tekanan ekonomi mendasar dan ketidakpastian kebijakan," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
Data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Juli dan pidato Ketua The Fed Warsh pada simposium Jackson Hole minggu ini akan dicermati untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai prospek suku bunga AS.
"Para pedagang akan menyimak dengan saksama setiap perubahan nada terkait arah kebijakan serta bagaimana hal tersebut selaras dengan perkembangan pasar obligasi terkini. Nada yang seimbang atau hati-hati, yang tetap membuka ruang bagi fleksibilitas, kemungkinan besar akan membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan kenaikannya," ujar Waterer.
Baca Juga: Nvidia Dikabarkan Investasi di Perplexity, Valuasi Tembus US$ 30 Miliar
Di ranah geopolitik, AS mengancam Iran dengan apa yang disebutnya sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan," seraya bersiap menerapkan sanksi ekonomi yang menyasar mitra dagang Iran.
Harga minyak turun lebih dari US$ 1 per barel akibat aksi ambil untung oleh para investor menjelang pengumuman yang dinanti-nantikan tersebut.














