kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.973.000   129.000   4,54%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Mengapa Bitcoin Masuk Fase Bear Market? Ini 3 Pemicu Utama Kerugian Investor Kripto


Kamis, 05 Februari 2026 / 02:30 WIB
Mengapa Bitcoin Masuk Fase Bear Market? Ini 3 Pemicu Utama Kerugian Investor Kripto
ILUSTRASI. Membeli Bitcoin pekan lalu ternyata belum tentu untung. Harga anjlok di bawah US$75.000, dipicu 3 faktor makroekonomi yang harus Anda tahu. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Februari membawa suasana dingin bagi pasar kripto. Harga Bitcoin sempat anjlok di bawah US$ 75.000 pada Minggu, melanjutkan tren penurunan yang sudah terjadi sejak akhir tahun lalu.

Menurut data Binance, meski pada Senin Bitcoin sempat rebound mendekati US$ 80.000, nilainya masih turun sekitar 37% dari rekor tertinggi pada Oktober.

Melansir Fortune, pelemahan Bitcoin dipicu oleh sejumlah faktor makroekonomi global. Seorang analis menyebut ada tiga pemicu utama: laporan kinerja perusahaan teknologi yang mengecewakan, penurunan tajam harga emas dan perak, serta ketidakpastian terkait pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).

“Pelemahan Bitcoin berasal dari kombinasi tiga faktor yang butuh waktu untuk dicerna pasar: kinerja buruk saham teknologi raksasa yang merusak narasi AI, koreksi tajam logam mulia, serta ketidakpastian seputar pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed,” ujar Jasper de Maere, desk strategist di Wintermute.

Selain itu, mandeknya pembahasan undang-undang kripto utama di AS juga membebani sentimen investor. RUU Clarity Act yang bertujuan mengatur struktur pasar perdagangan kripto tersendat sebelum mendapat persetujuan presiden.

Baca Juga: Harga Emas Rebound Dekati US$ 5.100 di Sore Ini (4/2), Dipicu Ketegangan AS-Iran

Pada Januari, CEO Coinbase Brian Armstrong menarik dukungannya karena aturan tersebut melarang imbal hasil (yield) dari stablecoin, yang memicu perdebatan di industri kripto.

Di sisi lain, harga emas dan perak juga bergerak sangat volatil. Setelah mencetak rekor tertinggi pekan lalu, harga emas turun sekitar 11% dan perak anjlok hingga 32%.

Tekanan juga melanda altcoin. Harga Ethereum turun sekitar 24% dalam sebulan terakhir ke kisaran US$2.354, sementara Solana melemah sekitar 20% ke level US$105, berdasarkan data Binance.

Pasar kripto memang tidak asing dengan fase penurunan. Crypto winter besar terakhir terjadi pada 2022–2023 saat runtuhnya Terraform Labs dan FTX. Namun, kali ini tidak dipicu oleh skandal besar. Pelemahan lebih disebabkan oleh investor yang menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian global.

Tonton: Prospek Bitcoin vs Emas 2026: Aset Aman Mana?

“Pasar kripto sebenarnya sudah berada dalam fase bear lebih lama dari yang disadari banyak orang. Namun kali ini lebih merupakan proses penyesuaian alami, bukan krisis struktural,” tambah de Maere.

Selanjutnya: Pesan Xi Jinping ke Putin-Trump: Ini Kunci Stabilitas Dunia di 2026


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×