Sumber: AP | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
PARIS. Salah seorang pelajar di salah satu sekolah paling prestis di Beligia, Saint Pierre d'Uccle, Abdelhamid Abaaoud, menjadi salah satu aktivis jihad terkenal di Belgia. Dia dikenal sangat fanatik dan merekrut adiknya yang baru berusia 13 tahun untuk bergabung dengannya di Suriah.
Anak dari imigran asal Moroko yang tumbuh di ibukota Belgia ini teridentifikasi oleh pemerintah Prancis sebagai otak penyerangan Paris pada Jumat (13/11) lalu yang menewaskan 129 orang (sebelumnya dikabarkan korban mencapai 153 orang) dan melukai ratusan orang lainnya.
Pemerintah Prancis juga bilang, Abaaoud juga terkait dengan serangan teror sebelumnya yang terjadi. Pertama, teror di kereta cepat Paris yang digagalkan oleh tiga pemuda Amerika pada Agustus lalu. Kedua, serangan di sebuah gereja yang terletak di pinggiran ibukota Prancis.
"Sepanjang hidup saya, saya telah melihat darah muslim mengalir. Saya berdoa bahwa Allah akan menghancurkan siapapun yang menentang dia, tentaranya dan pengikutnya, dan dia akan menghancurkan mereka," jelas Abaaoud dalam video yang disebarkan untuk publik pada 2014 lalu.
Sementara itu, pemerintah Belgia juga mencurigai, dirinya telah membantu mengorganisir dan mendanai aktivitas teror di kota sebelah timur Verviers yang sudah diserbu oleh pasukan kepolisian pada 15 Januari lalu.
Bulan berikutnya, Abaaoud seperti yang dikutip oleh majalah ISIS berbahasa Inggris, Dabiq, secara diam-diam kembali ke Belgia untuk memimpin aksi teror dan berhasil melarikan diri ke Suriah setelah foto dirinya menjadi headline di sejumlah media.
"Saya bahkan pernah dihentikan oleh petugas kepolisian yang membandingkan wajah saya dengan foto. Namun, dia melepaskan saya karena tak melihat adanya kemiripan," bual Abaaoud.













