Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Pemilih Jepang tetap mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) pada Minggu meski harus menembus hujan salju lebat dalam pemilu yang diperkirakan akan memberikan kemenangan besar bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Curah salju yang memecahkan rekor di sejumlah wilayah menyebabkan gangguan lalu lintas dan dikhawatirkan dapat menekan tingkat partisipasi pemilih.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan koalisi konservatif yang dipimpin Takaichi, pemimpin perempuan pertama Jepang, berpeluang meraih sekitar 300 dari total 465 kursi di Majelis Rendah parlemen. Angka ini jauh melampaui 233 kursi yang saat ini dipertahankan koalisi tersebut.
Di luar salah satu TPS di kota kecil di Prefektur Niigata, wilayah tengah Jepang yang tertutup salju hingga lebih dari dua meter, seorang guru bernama Kazushige Cho (54) mengaku tetap bertekad memilih Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi.
“Ia menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan mendorong berbagai kebijakan maju. Saya pikir hasilnya bisa sangat baik,” ujarnya.
Fenomena “Sanakatsu” Dongkrak Dukungan Pemilih Muda
Takaichi (64) menjadi perdana menteri pada Oktober setelah terpilih sebagai ketua LDP. Ia memutuskan menggelar pemilu musim dingin yang jarang terjadi untuk memanfaatkan lonjakan popularitas pribadinya.
Baca Juga: Kirin Jual Four Roses, Fokus ke Bisnis Kesehatan
Dengan gaya bicara lugas dan citra pekerja keras, Takaichi mempercepat belanja militer untuk mengimbangi China—kebijakan yang memicu ketegangan dengan Beijing. Ia juga mendorong pemotongan pajak konsumsi yang membuat pasar keuangan gelisah.
“Jika Takaichi menang besar, ia akan memiliki ruang politik lebih luas untuk menindaklanjuti komitmen utamanya, termasuk pemotongan pajak konsumsi. Pasar bisa bereaksi dalam beberapa hari ke depan dan yen dapat kembali tertekan,” kata Seiji Inada, Managing Director FGS Global.
Janji Takaichi untuk menangguhkan pajak penjualan 8% pada makanan selama dua tahun guna membantu rumah tangga menghadapi kenaikan harga memicu kekhawatiran investor. Jepang saat ini memiliki rasio utang publik tertinggi di antara negara-negara maju.
Mineko Mori (74), warga Niigata yang berjalan di tengah salju bersama anjingnya, mengaku khawatir kebijakan pemotongan pajak tersebut akan membebani generasi mendatang. Ia berencana memilih Sanseito, partai kecil sayap kanan yang menguat dalam pemilu Majelis Tinggi 2025 dengan agenda pengetatan imigrasi.
Meski demikian, pemilih muda justru menjadi basis dukungan terkuat Takaichi. Sebuah survei terbaru menunjukkan lebih dari 90% responden berusia di bawah 30 tahun mendukungnya.
Fenomena ini memicu tren yang disebut “sanakatsu” atau “Sanae-mania”, di mana produk yang digunakan Takaichi—seperti tas tangan dan pena merah muda yang dipakainya mencatat di parlemen—menjadi buruan anak muda.
Namun, kelompok pemilih muda secara historis memiliki tingkat partisipasi yang lebih rendah dibanding generasi tua yang selama ini menjadi tulang punggung dukungan LDP.
Dukungan Trump dan Target Supermayoritas
Pada Kamis, Takaichi menerima dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilai dapat menarik simpati pemilih berhaluan kanan.
Jika koalisi LDP dan Partai Inovasi Jepang (Ishin) meraih 310 kursi atau lebih (supermayoritas), Takaichi dapat mengesampingkan Majelis Tinggi, di mana koalisi tidak memiliki mayoritas.
Baca Juga: Trump Dukung Penuh Takaichi Jelang Pemilu Jepang, Pasar Tetap Waspada
Sebaliknya, jika hasil pemilu meleset dari perkiraan dan Takaichi kehilangan kendali atas Majelis Rendah, ia telah berjanji akan mengundurkan diri.
Badai Salju Hambat Mobilitas, Bisa Pengaruhi Partisipasi
Badan meteorologi memperkirakan salju setebal hingga 70 cm di wilayah utara Jepang. Ini menjadi pemilu ketiga pascaperang yang digelar pada Februari, karena biasanya pemilu dilaksanakan pada musim yang lebih bersahabat.
Bahkan Tokyo turut diselimuti salju, menyebabkan gangguan lalu lintas ringan. Kementerian transportasi melaporkan 37 jalur kereta, 58 rute feri, dan 54 penerbangan dibatalkan hingga Minggu pagi.
Partisipasi pemilih dalam pemilu Majelis Rendah sebelumnya berkisar di angka pertengahan 50%. Jika angka ini turun, pengaruh blok pemilih terorganisir bisa semakin besar.
Salah satunya adalah Komeito, yang tahun lalu keluar dari koalisi LDP dan bergabung dengan kelompok sentris bersama oposisi utama Partai Demokrat Konstitusional Jepang. Komeito memiliki hubungan erat dengan organisasi Buddha awam Soka Gakkai yang mengklaim memiliki sedikitnya 8 juta anggota di seluruh Jepang.
Pemilih memilih anggota parlemen dari 289 daerah pemilihan satu kursi, sementara sisanya ditentukan melalui sistem proporsional berdasarkan suara partai. TPS ditutup pukul 20.00 waktu setempat, saat lembaga penyiaran diperkirakan akan merilis proyeksi hasil berdasarkan jajak pendapat keluar (exit poll).













