Sumber: The Straits Times | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan keinginan pemerintahannya untuk membuka dialog dengan China, meski hubungan bilateral kedua negara masih diliputi ketegangan.
Pernyataan ini disampaikan Takaichi dalam konferensi pers pertamanya pada 2026, Minggu (4/1/2026).
Takaichi menekankan bahwa komunikasi tetap menjadi kunci untuk mengatasi berbagai perbedaan dan tantangan antara Jepang dan China. Ia menegaskan Tokyo tidak pernah menutup pintu dialog dengan Beijing.
Baca Juga: Trump Puji PM Jepang Sanae Takaichi, Teken Kesepakatan Perdagangan dan Rare Earths
“Negara kami terbuka terhadap berbagai peluang dialog dengan China dan tidak pernah menutup pintu,” ujar Takaichi, usai melakukan kunjungan ke Kuil Ise Jingu di Prefektur Mie, yang merupakan tradisi Tahun Baru bagi perdana menteri Jepang.
Pernyataan ini muncul setelah komentar Takaichi pada 7 November 2025 memicu kemarahan China.
Saat itu, dalam sidang parlemen, ia menyebut bahwa serangan terhadap Taiwan dapat menjadi ancaman eksistensial bagi Jepang dan berpotensi memicu keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang untuk mendukung Amerika Serikat jika Washington membela pulau demokratis tersebut.
China, yang menganggap Taiwan sebagai provinsi yang membangkang dan harus dipersatukan kembali dengan daratan, merespons keras pernyataan itu.
Baca Juga: Calon PM Jepang Sanae Takaichi Bakal Tunjuk Satsuki Katayama Jadi Menteri Keuangan
Beijing bahkan mengambil sejumlah langkah yang berpotensi merugikan ekonomi Jepang, termasuk mengeluarkan imbauan perjalanan agar warganya tidak berkunjung ke Jepang.
Sejak menjabat pada Oktober 2025, Takaichi baru sekali bertemu Presiden China Xi Jinping, yakni sekitar sepekan sebelum pernyataannya terkait Taiwan disampaikan.
Dalam konferensi pers yang sama, Takaichi juga menyinggung situasi di Venezuela. Ia berjanji akan melakukan upaya diplomatik untuk memulihkan demokrasi dan menstabilkan kondisi negara tersebut, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari lalu.
Namun, Takaichi tidak memberikan pandangan langsung mengenai operasi tersebut, yang memicu perdebatan hukum di dalam dan luar negeri.
Baca Juga: Diplomasi Wolf Warriors China Tengah Membidik Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi
Di bidang ekonomi, Takaichi menyatakan Jepang menargetkan investasi publik dan swasta lebih dari 50 triliun yen di sektor kecerdasan buatan (AI).
Pemerintah akan menggelontorkan lebih dari 10 triliun yen dalam bentuk dukungan publik. Menurutnya, investasi ini berpotensi menimbulkan efek ekonomi berantai hingga sekitar 160 triliun yen.













