kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.735   50,00   0,28%
  • IDX 6.617   17,80   0,27%
  • KOMPAS100 877   2,44   0,28%
  • LQ45 657   5,51   0,85%
  • ISSI 238   0,13   0,06%
  • IDX30 373   4,00   1,08%
  • IDXHIDIV20 460   4,26   0,93%
  • IDX80 101   0,52   0,52%
  • IDXV30 129   0,43   0,33%
  • IDXQ30 120   1,14   0,96%

MPOC Prediksi Harga CPO Bertahan di Kisaran US$ 1.110 per Ton pada Juni 2026


Selasa, 19 Mei 2026 / 09:09 WIB
MPOC Prediksi Harga CPO Bertahan di Kisaran US$ 1.110 per Ton pada Juni 2026
ILUSTRASI. Nilai ekspor CPO melonjak (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan tetap bertahan di kisaran 4.400 ringgit Malaysia per ton atau sekitar US$ 1.110 per ton pada Juni 2026.

Prospek tersebut didukung kebijakan biofuel global yang menjaga permintaan tetap kuat, di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat cuaca dan geopolitik.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Variatif Selasa (19/5), Minyak Turun Usai Trump Tunda Serang Iran

Mengutip Reuters, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) dalam pernyataannya pada Selasa (19/5/2026) menyebut perkembangan kebijakan biofuel di Amerika Serikat (AS) turut meningkatkan daya saing harga minyak sawit di pasar global.

Selain itu, Malaysia mulai menerapkan program biodiesel B15 pada bulan depan, yakni bahan bakar dengan campuran 15% minyak sawit.

Sementara Indonesia berencana menaikkan kewajiban campuran minyak sawit dalam biodiesel menjadi 50% (B50) mulai Juli 2026, dari saat ini 40% (B40).

MPOC menilai, kebijakan tersebut akan menopang permintaan minyak sawit dalam beberapa bulan ke depan.

“Perkembangan terbaru sektor biofuel di AS telah meningkatkan daya saing harga minyak sawit di berbagai pasar utama,” tulis MPOC.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil US$ 4.565 Selasa (19/5) Pagi, Trump Tunda Serangan ke Iran

Lembaga tersebut juga menilai harga minyak nabati global masih berpotensi melanjutkan tren bullish.

Koreksi harga yang terjadi belakangan ini diperkirakan lebih dipengaruhi aksi ambil untung investor dan spekulan pasar.

Di sisi lain, MPOC mengingatkan risiko pasokan masih membayangi pasar akibat ketegangan geopolitik global dan meningkatnya potensi fenomena cuaca El Nino.

Menurut MPOC, El Nino biasanya memicu kondisi cuaca lebih kering di Asia Tenggara, mengurangi curah hujan dan kelembapan tanah, sehingga berpotensi mengganggu produksi pertanian regional.

Departemen Meteorologi Malaysia juga memperkirakan kondisi El Nino mulai berkembang pada pertengahan tahun ini dan dapat berlangsung hingga awal 2027.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×