Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Iran menyatakan tetap membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) di tengah pertimbangan Presiden AS Donald Trump terkait respons atas penindakan keras terhadap gelombang protes nasional di Iran.
Aksi tersebut menjadi salah satu ujian terberat bagi pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979.
Menambah tekanan, Trump pada Senin (12/1/2026) malam mengumumkan bahwa setiap negara yang tetap melakukan bisnis dengan Iran akan dikenai tarif baru sebesar 25% atas ekspornya ke AS. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial.
Baca Juga: Pejabat The Fed: Suku Bunga AS Tepat, Tidak Ada Alasan Mendesak Memangkas
“Perintah ini bersifat final dan mengikat,” tulis Trump.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai lebih bersifat simbolis mengingat Iran, sebagai salah satu produsen minyak utama dunia, telah lama berada di bawah sanksi perdagangan AS dan internasional.
Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York menolak berkomentar atas pengumuman tarif tersebut. Adapun tujuan ekspor utama Iran saat ini meliputi China, Uni Emirat Arab, dan India.
Trump sebelumnya mengatakan AS membuka peluang pertemuan dengan pejabat Iran dan mengklaim telah berkomunikasi dengan kelompok oposisi Iran.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan terhadap para pemimpin Iran atas penggunaan kekerasan mematikan terhadap demonstran.
Baca Juga: Tegas! Pejabat Kelas Atas China Jadi Buruan Xi Jinping
Gelombang protes yang meluas di Iran berawal dari keluhan atas kondisi ekonomi yang memburuk, sebelum berkembang menjadi tuntutan terbuka agar pemerintahan ulama yang telah berkuasa lebih dari 45 tahun lengser. Pengaruh regional Iran juga disebut semakin melemah dalam beberapa tahun terakhir.
Kelompok HAM yang berbasis di AS, HRANA, menyebut hingga Senin malam telah memverifikasi kematian 646 orang, termasuk 505 demonstran, 113 personel militer dan keamanan, serta tujuh warga sipil.
Selain itu, HRANA mencatat 10.721 orang ditangkap sejak protes dimulai pada 28 Desember. Reuters belum dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.
HRANA juga melaporkan bahwa keluarga korban berkumpul di Pemakaman Behesht Zahra, Teheran, sambil meneriakkan slogan-slogan protes.
Aliran informasi dari Iran sendiri terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis lalu, meski sebagian warga masih dapat mengakses internet melalui layanan satelit Starlink.
Baca Juga: Bursa Jepang Selasa (13/1): Nikkei Terbang Tinggi, Sentuh Rekor Sepanjang Masa
Sementara itu, Gedung Putih menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi opsi utama. “Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama presiden,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Ia menambahkan bahwa pesan yang disampaikan Iran secara terbuka berbeda dengan komunikasi yang diterima AS secara tertutup.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran tengah mempelajari sejumlah gagasan yang disampaikan Washington, meski sebagian dinilai tidak sejalan dengan ancaman AS.
Ia mengungkapkan komunikasi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff masih berlangsung sebelum dan setelah pecahnya protes.
Iran sendiri belum merilis angka resmi korban tewas. Pemerintah Iran menuding kekerasan dipicu campur tangan AS serta kelompok yang mereka sebut sebagai teroris yang didukung AS dan Israel. Media pemerintah lebih banyak menyoroti kematian aparat keamanan.
Berbicara di Lapangan Enqelab, Teheran, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan Iran tengah menghadapi perang di empat front, yakni perang ekonomi, psikologis, militer melawan AS dan Israel, serta perang melawan terorisme. Ia mengklaim situasi berada dalam kendali penuh.
Baca Juga: Ancaman Dakwaan DOJ ke The Fed: Investor Emas Wajib Waspada Risiko Ini
Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat senior untuk membahas opsi terhadap Iran.
Sejumlah opsi yang dipertimbangkan antara lain perluasan sanksi, serangan siber, hingga aksi militer terbatas.
Namun, langkah tersebut dinilai berisiko tinggi karena sejumlah fasilitas militer Iran berada di kawasan padat penduduk.
Ketegangan ini turut mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam tujuh pekan, seiring kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan ekspor minyak Iran akibat instabilitas politik dan kemungkinan respons AS.













