kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.776   42,00   0,25%
  • IDX 8.232   -88,35   -1,06%
  • KOMPAS100 1.139   -9,43   -0,82%
  • LQ45 813   0,48   0,06%
  • ISSI 296   -9,48   -3,11%
  • IDX30 422   3,70   0,88%
  • IDXHIDIV20 501   7,26   1,47%
  • IDX80 126   -0,89   -0,70%
  • IDXV30 136   -1,76   -1,27%
  • IDXQ30 136   1,46   1,09%

Negara-Negara Asia Perketat Skrining Bandara Usai India Konfirmasi Kasus Virus Nipah


Kamis, 29 Januari 2026 / 16:27 WIB
Negara-Negara Asia Perketat Skrining Bandara Usai India Konfirmasi Kasus Virus Nipah
ILUSTRASI. India konfirmasi kasus Nipah, virus langka tanpa vaksin. Sejumlah negara Asia kini perketat pengawasan perbatasan. Ketahui dampaknya pada perjalanan Anda! (dok./https://unsplash.com/Fusion Medical Animation)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah negara di Asia memperketat pengawasan kesehatan di pintu masuk internasional setelah India mengonfirmasi dua kasus infeksi virus Nipah, penyakit langka namun mematikan yang belum memiliki vaksin.

Pakistan dan Vietnam termasuk di antara negara yang segera meningkatkan skrining di bandara, pelabuhan laut, dan perbatasan darat untuk mencegah potensi penyebaran lintas negara.

Otoritas kesehatan Pakistan memerintahkan peningkatan skrining terhadap seluruh pelaku perjalanan yang masuk ke wilayahnya guna mendeteksi tanda-tanda infeksi virus Nipah. Langkah ini diambil menyusul laporan kasus di India yang memicu kewaspadaan di berbagai negara Asia.

Baca Juga: Apa Itu Virus Nipah? Fakta Penting Usai Muncul Kasus di India

Departemen Border Health Services Pakistan dalam pernyataannya menegaskan bahwa penguatan langkah pencegahan dan pengawasan di perbatasan menjadi sangat penting.

Seluruh pelaku perjalanan diwajibkan menjalani pemindaian suhu tubuh (thermal screening) dan penilaian klinis di seluruh titik masuk negara, termasuk bandara, pelabuhan laut, dan perbatasan darat.

Selain itu, setiap pelaku perjalanan juga diminta memberikan riwayat perjalanan selama 21 hari terakhir untuk memastikan apakah mereka pernah berada di wilayah terdampak Nipah atau kawasan berisiko tinggi.

Meskipun tidak ada penerbangan langsung antara Pakistan dan India, mobilitas antar kedua negara memang sudah sangat terbatas, terutama setelah konflik besar yang terjadi pada Mei tahun lalu.

Langkah serupa juga diterapkan di sejumlah negara Asia lainnya, seperti Thailand, Singapura, Hong Kong, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam yang memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara internasional.

Baca Juga: Virus Nipah India Ancam Asia Tenggara, Singapura Ketatkan Pengawasan

Di Vietnam, Departemen Kesehatan Hanoi memerintahkan skrining ketat terhadap penumpang yang tiba di Bandara Internasional Noi Bai, khususnya mereka yang datang dari India dan negara bagian Benggala Barat, lokasi dua tenaga kesehatan yang terkonfirmasi terinfeksi virus Nipah pada akhir Desember lalu.

Penumpang diperiksa menggunakan pemindai suhu tubuh untuk mendeteksi potensi kasus. Langkah ini dinilai penting untuk memungkinkan isolasi dini serta investigasi epidemiologi secara cepat jika ditemukan kasus yang dicurigai.

Sebelumnya, otoritas kesehatan di Ho Chi Minh City juga telah memperketat kontrol kesehatan di seluruh perlintasan perbatasan internasional.

Kementerian Kesehatan India menyampaikan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi dan melacak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan dua pasien tersebut. Hingga kini, seluruh kontak tersebut tidak menunjukkan gejala dan hasil tes dinyatakan negatif.

Virus Nipah merupakan infeksi virus langka yang sebagian besar menular dari hewan, terutama kelelawar pemakan buah (fruit bats), ke manusia. Dalam beberapa kasus, penularan antarmanusia dapat terjadi, namun biasanya memerlukan kontak yang cukup lama dan intens dengan penderita.

Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan demam tinggi dan peradangan otak (ensefalitis). Tingkat kematian akibat virus ini sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan sistem kesehatan setempat dalam mendeteksi dan menangani kasus secara cepat, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga: Singapura Terapkan Pemeriksaan Suhu di Bandara Imbas Wabah Virus Nipah di India

Virus ini pertama kali diidentifikasi lebih dari 25 tahun lalu saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura. Para ilmuwan meyakini virus ini telah beredar di populasi kelelawar selama ribuan tahun.

WHO mengategorikan Nipah sebagai patogen prioritas karena potensi wabahnya yang mematikan dan belum tersedianya vaksin. India sendiri secara rutin melaporkan kasus sporadis, terutama di negara bagian Kerala di selatan, yang dianggap sebagai salah satu wilayah dengan risiko Nipah tertinggi di dunia.

Data dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) mencatat bahwa hingga Desember 2025 terdapat 750 kasus infeksi Nipah terkonfirmasi secara global, dengan 415 kematian. CEPI saat ini tengah mendanai uji coba vaksin yang diharapkan dapat membantu menekan penyebaran virus tersebut di masa depan.

Peningkatan kewaspadaan di berbagai negara Asia mencerminkan kekhawatiran serius terhadap potensi penyebaran lintas negara, meskipun penularan virus Nipah antarmanusia relatif sulit terjadi tanpa kontak erat dalam waktu lama.

Selanjutnya: Menteri Bappenas Sebut Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak Ketimbang Lapangan Kerja

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 3 Ganda Putri Indonesia Tembus Babak 8 Besar




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×