Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Munculnya dua kasus virus Nipah di India mendorong sejumlah negara di Asia, termasuk Thailand dan Malaysia, memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Lalu, apa sebenarnya virus Nipah dan seberapa besar risiko yang ditimbulkannya?
Baca Juga: Amazon Memangkas 16.000 Pekerjaan Secara Global di Tengah Dorongan AI
Apa itu virus Nipah?
Virus Nipah merupakan infeksi virus langka yang terutama menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai inang alaminya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, tingkat kematian akibat virus ini tergolong tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan sistem kesehatan setempat dalam mendeteksi dan menangani kasus.
Meski dapat menular antarmanusia, penularannya tidak terjadi dengan mudah. Karena itu, wabah virus Nipah umumnya berskala kecil dan relatif dapat dikendalikan.
Hingga kini, belum ada vaksin Nipah yang disetujui untuk penggunaan luas, meski sejumlah kandidat vaksin masih dalam tahap pengembangan.
Baca Juga: ASML Cetak Rekor Pemesanan Baru, Mencapai € 13,2 miliar di Kuartal IV-2025
Seberapa sering virus Nipah muncul?
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi di Malaysia pada 1999. Sejak saat itu, wabah sporadis tercatat hampir setiap tahun, terutama di Bangladesh. India juga beberapa kali melaporkan kemunculan kasus secara berkala.
Menurut Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), hingga Desember lalu tercatat sekitar 750 kasus virus Nipah secara global, dengan 415 di antaranya berujung kematian.
Baca Juga: UPDATE Rabu (28/1): Dolar AS Mulai Stabil, Pasar Beralih Fokus ke The Fed
Bagaimana virus Nipah menular?
Pada wabah awal di Malaysia, virus ini menyebar terutama melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau jaringan tubuh yang terkontaminasi.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, penularan lebih sering terjadi melalui kontak dengan kelelawar buah.
WHO menyebutkan, konsumsi buah atau produk buah seperti nira kurma mentah yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar buah menjadi salah satu sumber utama penularan.
Penularan dari manusia ke manusia juga dapat terjadi, terutama melalui kontak dekat dengan pasien, seperti pada anggota keluarga atau tenaga perawat.
Baca Juga: Ilmuwan Hong Kong Luncurkan Model AI untuk Prediksi Cuaca Ekstrem
Apa saja gejalanya?
Gejala awal virus Nipah meliputi demam, sakit kepala, dan nyeri otot gejala yang kerap sulit dibedakan dari penyakit lain.
Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami gangguan saraf berupa ensefalitis akut atau peradangan otak, serta masalah pernapasan berat.
Dalam kasus yang parah, penderita dapat mengalami kejang dan koma hanya dalam hitungan hari. Meski banyak pasien yang sembuh dapat pulih sepenuhnya, sebagian lainnya mengalami gangguan saraf jangka panjang.
Baca Juga: Harga Emas Naik di Atas US$ 5.300 per Ons Seiring Melemahnya Dolar AS
Seberapa perlu dikhawatirkan?
Meski tergolong mematikan, para ilmuwan menilai virus Nipah belum menunjukkan kemampuan menular antarmanusia secara luas atau menyebar secara global.
Namun demikian, WHO menilai virus ini tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat, khususnya di negara-negara yang kerap mengalami wabah.
Selain risiko pada manusia, wabah Nipah juga dapat berdampak besar pada sektor peternakan, karena dapat memicu pemusnahan massal hewan ternak seperti babi yang rentan terinfeksi.
Para ahli juga menilai bahwa pemeriksaan suhu di bandara belum tentu efektif, mengingat virus Nipah memiliki masa inkubasi yang relatif panjang.
Baca Juga: India Laporkan Dua Kasus Infeksi Virus Nipah
Apakah sudah ada vaksin atau pengobatan?
Hingga kini, belum tersedia vaksin atau pengobatan khusus untuk virus Nipah.
Namun sejumlah kandidat vaksin tengah dikembangkan dan diuji, termasuk vaksin yang dikembangkan oleh tim ilmuwan Universitas Oxford yang juga terlibat dalam pengembangan salah satu vaksin COVID-19.
Vaksin tersebut menggunakan teknologi serupa dan telah memasuki uji klinis fase II di Bangladesh sejak Desember lalu, bekerja sama dengan International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh, serta didanai oleh CEPI.













