kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Parlemen Swiss mulai khawatir dengan penguatan franc yang drastis


Kamis, 07 Juli 2011 / 10:56 WIB
Parlemen Swiss mulai khawatir dengan penguatan franc yang drastis
ILUSTRASI. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara pada konferensi Komite Militer Pusat Partai Buruh Korea dalam gambar yang dirilis Agensi Berita Sentral Korea (KCNA) pada Sabtu (23/5/2020). KCNA via REUTERS


Reporter: Dyah Megasari, Bloomberg |

ZURICH. Parlemen Swiss mengadakan pertemuan penting dengan bank sentral terkait terus menguatnya nilai tukar Swiss franc. Pertemuan itu melibatkan menteri ekonomi, Johann Scneider Ammann dan ketua umum Bank Sentral Swiss/ Swiss National Bank (SNB), Philipp Hildebrand. Keduanya melakukan assessment dari kondisi saat ini dan prospek ke depan terkait dengan stabilitas harga untuk menjaga kinerja ekonomi Swiss.

Parlemen menginginkan SNB mengambil langkah yang lebih besar dalam menjaga stabilitas harga. Sejak Maret 2009 hingga Juni 2010, SNB melakukan intervensi dalam mencegah penguatan Swiss franc.

Saat itu, SNB memutuskan menghentikan aksi intervensi karena kinerja ekonomi Swiss masih membaik meskipun penguatan Swiss franc terus terakselerasi.

Namun sekarang, nilai kurs franc sangat dipengaruhi oleh kondisi global sehingga bergerak signifikan. Risk aversion negara tersebut kembali berkembang, mulai dari kekhawatiran terhadap China hingga Eropa yang mendorong meningkatnya permintaan terhadap aset-aset yang bersifat safe haven, dalam hal ini adalah mata uang dengan yield yang rendah seperti Swiss franc.

Namun, penguatan mata uang tersebut tak berimbas bagus pada keseluruhan ekonomi Swiss. Hal itu terlihat dari data penjualan ritel akhir Mei yang menggambarkan pesimisme.




TERBARU

[X]
×