kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Peluang Infantino Terpilih Lagi sebagai Presiden FIFA Masih Terbuka, Ini Sebabnya


Minggu, 25 Oktober 2026 / 13:28 WIB
Peluang Infantino Terpilih Lagi sebagai Presiden FIFA Masih Terbuka, Ini Sebabnya
ILUSTRASI. Gianni Infantino (Dok/FIFA)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan tidak memiliki alasan untuk mundur dari jabatannya meski proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang diajukannya gagal mendapatkan dukungan.

Ia justru menyoroti besarnya dukungan asosiasi anggota FIFA dari berbagai negara yang dinilainya menjadi modal kuat untuk kembali memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut.

Infantino menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan BBC pada Sabtu (24/10/2026), sebagaimana dilaporkan Reuters. Ia menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan dirinya mempertimbangkan pengunduran diri setelah membatalkan proposal FFE sekitar tiga bulan lalu.

Proposal tersebut bertujuan menarik investasi swasta melalui pembentukan entitas baru yang akan mengendalikan hak komersial terkait sejumlah kompetisi utama FIFA.

Namun, kegagalan proposal itu tidak membuat posisi Infantino melemah. Sebaliknya, peluangnya untuk kembali terpilih sebagai Presiden FIFA untuk keempat kalinya semakin terbuka setelah mendapat dukungan dari sejumlah konfederasi sepak bola regional.

Pada Jumat (23/10/2026), Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa menyatakan Asia bersatu mendukung Infantino untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Baca Juga: MotoGP Australia 2026 Dibatalkan, Phillip Island Gagal Gelar Balapan Perpisahan

Dukungan tersebut memperkuat posisi Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA untuk periode berikutnya hingga 2031.

Infantino tegaskan dukungan mayoritas anggota FIFA

Infantino menilai perbedaan pandangan di dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, ia menekankan pentingnya menghormati keputusan mayoritas anggota, terutama dalam organisasi yang mengedepankan prinsip demokrasi.

"Saya dipilih oleh 211 asosiasi anggota dari seluruh dunia. Menurut saya, yang penting adalah dalam organisasi seperti FIFA, bisa terdapat pandangan dan pendapat yang berbeda," ujar Infantino kepada BBC.

Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan pengunduran dirinya dengan menegaskan bahwa keputusan dalam organisasi harus mempertimbangkan suara mayoritas.

"Namun, jika kita serius mengenai demokrasi, proses demokratis, serta meyakini bahwa setiap orang memiliki hak suara dan suara yang sama di seluruh dunia, dan bahwa sepak bola adalah milik semua orang, maka kita juga perlu menghormati pandangan dari mayoritas yang sangat besar," katanya.

Infantino menambahkan, dukungan dari sejumlah konfederasi menjadi bukti bahwa mayoritas anggota FIFA masih memberikan kepercayaan kepadanya.

"Saya baru saja kembali dari Tokyo, tempat Konfederasi Sepak Bola Asia memberikan dukungan penuh kepada saya. Saya juga berada di Tanjung Verde, tempat seluruh negara Afrika memberikan dukungan kepada saya. Saya terus berbicara dengan semua asosiasi di berbagai belahan dunia," ujar Infantino.

Dukungan Asia mengubah peta persaingan pemilihan Presiden FIFA

Dukungan AFC terhadap Infantino menjadi perkembangan penting setelah sebelumnya konfederasi tersebut bersama Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) mengkritik proposal FFE.

Kritik tersebut muncul karena proposal itu berkaitan dengan rencana penjualan kepentingan komersial Piala Dunia dan kompetisi besar FIFA melalui entitas baru yang melibatkan investasi swasta.

Namun, perubahan sikap AFC dan perpecahan di internal CONCACAF membuat posisi Eropa semakin terisolasi dalam penentuan arah kepemimpinan FIFA.

Situasi tersebut sekaligus memperlihatkan belum kuatnya kandidat alternatif yang berpotensi menantang Infantino dalam pemilihan presiden mendatang.

Infantino kini membidik masa jabatan keempat yang akan berlangsung hingga 2031. Kandidat yang ingin maju dalam pemilihan tersebut harus menyerahkan pencalonan paling lambat 18 November 2026.

Permintaan maaf Infantino belum mengubah sikap Eropa

Pekan lalu, Infantino menyampaikan permintaan maaf dalam pertemuan Dewan FIFA di Zurich terkait cara proposal FFE ditangani.

Meski demikian, permintaan maaf tersebut belum berhasil mengubah sikap sejumlah asosiasi sepak bola Eropa, termasuk Jerman dan Inggris, yang masih mempertanyakan arah kepemimpinan FIFA.

Baca Juga: Fitch Ramal Pertumbuhan Pendapatan Korporasi Global Anjlok Jadi 1,5% pada 2027

Di tengah perbedaan pandangan tersebut, Infantino menegaskan bahwa seluruh pihak perlu melanjutkan kerja sama setelah menyampaikan keberatan masing-masing.

"Tidak masalah jika kita memiliki perbedaan pendapat, tetapi setelah itu kita harus bisa melangkah maju," katanya.

Ia mengakui menyatukan berbagai pandangan di bawah satu organisasi bukanlah perkara mudah. Namun, menurutnya, setiap pendapat tetap harus dihormati.

"Ada berbagai pandangan yang berbeda. Tidak selalu mudah untuk menyatukan semuanya di bawah satu atap, tetapi kita harus menghormati, dan saya menghormati semua pendapat serta pandangan," ujar Infantino.

Ia menegaskan, keputusan akhir mengenai siapa yang akan memimpin FIFA tetap berada di tangan asosiasi anggota.

"Pada akhirnya, asosiasi anggota FIFA yang akan memutuskan siapa yang mereka inginkan sebagai presiden dan bagaimana mereka ingin FIFA dijalankan," kata Infantino.




TERBARU

[X]
×