Pemegang Obligasi Anak Usaha Evergrande Tolak Proposal Menundaan Pembayaran

Senin, 11 Juli 2022 | 11:22 WIB Sumber: Reuters
Pemegang Obligasi Anak Usaha Evergrande Tolak Proposal Menundaan Pembayaran

ILUSTRASI. Salah satu proyek yang dikembangkan China Evergrande Group, di Danzhou,


KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Pemegang obligasi dari anak usaha pengembang properti China Evergrande Group telah menolak proposal untuk penundaan pembayaran obligasi senilai 4,5 miliar yuan atau setara US$ 671,04 juta.

Senin (11/7), Hengda Real Estate Group Co Ltd, yang merupakan salah satu unit usaha Evergrande, mengatakan dalam pengajuan ke Bursa Efek Shenzhen,  sedang dalam pembicaraan dengan para pemegang obligasi untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima sesegera mungkin.

Obligasi senilai 4,5 miliar yuan, dengan tingkat kupon 6,98%, yang diterbitkan oleh Hengda melalui Bursa Efek Shenzhen pada awal 2020, telah puttable pada 8 Januari tahun ini.

Puttable bonds adalah obligasi yang memberikan hak kepada invstor yang mengharuskan perusahaan untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu, sepanjang tenor obligasi tersebut.

Baca Juga: Kini Giliran Pengembang Properti China Shimao Group Gagal Bayar Obligasi US$ 1 Miliar

Hengda sebelumnya memenangkan persetujuan dari kreditur asing untuk memperpanjang tanggal puttable hingga 8 Juli. Namun, kini perusahaan tersebut gagal mendapatkan persetujuan dari kreditur untuk memperpanjang pembayaran lebih lanjut, yakni hingga 8 Januari 2023.

Berjuang dengan kewajiban lebih dari US$ 300 miliar, Evergrande gagal membayar beberapa pembayaran untuk obligasi luar negeri sejak tahun lalu. Perusahaan terus mencoba untuk memperpanjang jadwal pembayaran untuk obligasi di dalam negeri guna menghindari default.

Pekan lalu, Top Shine Global Ltd, seorang investor di unit usaha Evergrande, Fangchebao, mengatakan telah mengajukan petisi penutupan terhadap pengembang itu karena tidak menghormati pakta untuk membeli kembali saham dari Top Shine di Fangchebao.

Namun, Evergrande telah mengatakan dengan keras menentang petisi tersebut, dan bahwa gugatan itu tidak akan berdampak pada rencana restrukturisasi utang luar negeri, yang diharapkan akan mendarat pada akhir bulan ini.

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru