Kini Giliran Pengembang Properti China Shimao Group Gagal Bayar Obligasi US$ 1 Miliar

Senin, 04 Juli 2022 | 14:21 WIB   Reporter: Ignatia Ivani
Kini Giliran Pengembang Properti China Shimao Group Gagal Bayar Obligasi US$ 1 Miliar

ILUSTRASI. Logo pengembang properti Shimao Group. Shimao Group Holdings tidak mampu bayar surat utang senilai US$ 1 miliar. REUTERS/Aly Song


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pengembang properti asal China Shimao Group Holdings tidak mampu bayar surat utang senilai US$ 1 miliar yang jatuh tempo pada Minggu kemarin. Insiden ini menambah rekor default obligasi di sektor properti Cina. Setelah sebelumnya raksasa properti China lain semacam China Evergrande Group dan Sunac Group Holdings Ltd juga mengalami kesulitan yang sama.

Shimao belum melakukan pembayaran pokok dan bunga yang melibatkan beberapa surat utang luar negeri. Sebagai langkah responsif, pihaknya telah berdiskusi dengan kreditur untuk mencapai penyelesaian damai.

Kemungkinan pihak kreditur pun menuntut pembayaran dipercepat dan menempuh jalur hukum apabila Shimao tidak sanggup membayarnya. Hingga saat ini, pengembang properti tersebut belum menerima pemberitahuan pembayaran dipercepat dari krediturnya, tetapi telah memperoleh dukungan tertulis dari mayoritas pemberi pinjaman berjangka mata uang ganda.

Kabar baiknya, kreditur juga menyatakan bahwa mereka tidak berniat untuk mengambil tindakan keras apapun pada tahap ini.

Baca Juga: Kasus Mingguan Covid-19 Global Melonjak, Tren Penurunan sejak Maret Terhenti

"Karena ketidakpastian pasar atas pembiayaan kembali utang dan kondisi operasional dan pendanaan yang menantang, Shimao telah mengalami perkembangan negatif dalam peringkat kreditnya," tulis Shimao dalam pengajuan keringanan kewajibannya pada hari Minggu (3/7).

Penjualan serta investasi properti yang jauh lebih menurun kemungkinan turut mempengaruhi performa buruk Shimao. Berdasarkan survei Reuters, permintaan atas penjualan properti terlihat merosot 25% di semester pertama. Penjualan diperkirakan turun 10,0% secara tahunan.

Di sisi lain, investasi perusahaan real estate diperkirakan turun 5% di semester pertama dan akan turun 2,5% sepanjang tahun ini. Analis sebelumnya memperkirakan investasi akan turun 2% di paruh pertama namun naik 1,5% pada akhir 2022.

Meskipun prospek kondisi suram, perusahaan tersebut sedikit demi sedikit telah menjual hampir 20 proyek properti lagi untuk mengumpulkan uang. Tindakan ini diharapkan mampu mempercepat arus kas masuk dari penjualan properti karena pasar properti menunjukkan tanda-tanda rebound.

Baca Juga: Beberapa Wilayah di China Bagian Timur Melakukan Pengujian COVID-19 Massal

Berdasarkan informasi dari China Real Estate Information Corp menyebutkan penjualan rumah baru naik dan diperkirakan mencapai 31% pada bulan Juni. Artinya, membuka titik terang bagi Shimao.

Sejauh ini, pengembang properti China tersebut telah menggandeng Admiralty Harbour Capital Ltd. sebagai penasihat keuangannya dan Sidley Austin sebagai penasihat hukumnya untuk membantu menilai struktur modal, likuiditas, dan opsinya.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru