Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan Presiden Donald Trump.
Sejumlah penasihat utama Gedung Putih disebut telah memperingatkan Trump bahwa perang tersebut bisa berlanjut hingga akhir masa jabatannya.
Baca Juga: Robot China Kalahkan Rekor Usain Bolt, Kini Siap Rebut Pekerjaan Manusia?
Mengutip laporan The Wall Street Journal (WSJ), Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio termasuk pejabat yang secara pribadi menyampaikan peringatan tersebut kepada Trump.
Peringatan itu disampaikan dalam sejumlah pembicaraan di Oval Office dan Situation Room.
Para penasihat menilai, Iran masih memiliki kemampuan untuk terus menahan tekanan AS sehingga konflik berpotensi berlangsung hingga melewati pelantikan presiden berikutnya pada Januari 2029.
Gedung Putih belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters terkait laporan tersebut.
Peringatan para penasihat Trump tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan publik sang presiden mengenai durasi perang.
Baca Juga: Apple Tersalip Samsung Setelah 16 Tahun, Skor Brand Intimacy Anjlok
Pada Rabu (9/9/2026), Trump mengatakan dirinya memperkirakan konflik akan berakhir "segera setelah" pemilu paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Trump juga menuding Iran berupaya memengaruhi hasil pemilu tersebut. Menurut dia, Teheran tidak akan mampu mempertahankan perlawanan dalam waktu yang jauh lebih lama.
Meski demikian, Trump mengakui peluang diplomasi masih terbuka. Namun, ia menegaskan bahwa negosiasi bukan pilihan yang lebih disukai.
Potensi konflik yang berlangsung hingga 2029 meningkatkan ketidakpastian geopolitik sekaligus membuka risiko lebih panjang terhadap perekonomian global, terutama apabila perang terus mengganggu jalur perdagangan dan energi di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Perang Iran-AS Makin Brutal, Harga Minyak Tembus US$ 100
Berkepanjangannya konflik juga dapat menjaga tekanan terhadap harga minyak dunia serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan, tergantung pada perkembangan serangan dan gangguan terhadap pasokan energi global.













