kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.001   -56,00   -0,31%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

Penjualan SUV Listrik Volkswagen di China Lesu, Kemitraan Xpeng Belum Berbuah Manis


Selasa, 20 Oktober 2026 / 15:00 WIB
Penjualan SUV Listrik Volkswagen di China Lesu, Kemitraan Xpeng Belum Berbuah Manis
ILUSTRASI. Penjualan SUV listrik Volkswagen di China jauh dari target meski menggandeng Xpeng. Persaingan teknologi dan harga mengancam pangsa pasar. (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJING/BERLIN – Strategi Volkswagen menggandeng produsen kendaraan listrik asal China, Xpeng, untuk memulihkan bisnisnya di pasar otomotif terbesar dunia belum menunjukkan hasil sesuai harapan. SUV listrik ID. UNYX 08, produk pertama dari kemitraan tersebut, mencatat penjualan jauh di bawah target perusahaan.

Berdasarkan data konsultan otomotif ThinkerCar, penjualan ID. UNYX 08 rata-rata hanya mencapai 267 unit per bulan sejak diluncurkan pada April hingga Agustus 2026. Angka tersebut jauh di bawah target awal Volkswagen yang memperkirakan penjualan sebanyak 3.622 unit per bulan sepanjang tahun ini.

Kinerja yang mengecewakan tersebut mencerminkan besarnya tantangan Volkswagen untuk memulihkan bisnisnya di China. Selama puluhan tahun hingga 2022, produsen otomotif asal Jerman itu menjadi pemain terbesar di pasar tersebut. Namun, persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat telah menggerus dominasinya.

China yang sebelumnya menyumbang hampir 50% laba grup Volkswagen kini hanya berkontribusi sekitar 10%. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan utama dalam krisis bisnis global Volkswagen dan mendorong perusahaan menjalankan restrukturisasi terbesar dalam sejarah 89 tahun operasinya.

Strategi Volkswagen di China Belum Berhasil

Kemitraan dengan Xpeng pada 2023 merupakan bagian dari upaya Volkswagen mengejar ketertinggalan dalam teknologi kendaraan listrik, perangkat lunak, dan kecepatan pengembangan produk. Volkswagen berharap kolaborasi tersebut dapat membantu perusahaan menghadirkan mobil yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen China.

Baca Juga: Toko Mewah di Milan Tutup Khawatir Kerusuhan, Italia Siapkan Pengerahan 500 Tentara

Namun, peluncuran ID. UNYX 08 memperlihatkan bahwa akses terhadap teknologi lokal belum tentu menghasilkan keberhasilan komersial.

Laporan Reuters yang mengacu pada dokumen internal perusahaan yang sebelumnya belum dipublikasikan serta wawancara dengan enam orang yang mengetahui bisnis Volkswagen menunjukkan bahwa ambisi penjualan perusahaan belum didukung oleh daya saing produk, strategi harga, dan jaringan distribusi yang memadai.

Volkswagen tidak memberikan komentar mengenai proyeksi penjualan dalam dokumen tersebut. Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut kemitraan dengan Xpeng telah menghasilkan arsitektur kendaraan listrik baru untuk mendukung produksi model lokal dan mempercepat pengembangan kendaraan.

Volkswagen mengatakan proyek arsitektur tersebut diselesaikan dalam waktu 18 bulan, yang disebut sebagai rekor. SUV UNYX 08 dan sedan UNYX 09 merupakan produk tambahan dari kerja sama tersebut.

Xpeng menolak memberikan komentar.

Dari sisi produk, ID. UNYX 08 diluncurkan dengan harga sekitar US$ 34.260. Namun, sejumlah pesaing asal China menawarkan teknologi yang lebih canggih dengan kisaran harga serupa.

SUV YU7 besutan Xiaomi dilengkapi paket sensor canggih, sedangkan Zeekr 7X menawarkan kemampuan pengisian daya cepat. Menurut ThinkerCar, Xiaomi menjual hampir 57.000 unit YU7 dan Zeekr menjual lebih dari 21.000 unit 7X selama April hingga Agustus. Pada periode yang sama, penjualan UNYX 08 hanya sekitar 1.300 unit.

Wakil Presiden Riset Gartner, Pedro Pacheco, menilai konsumen China semakin mempertimbangkan kesesuaian harga dengan teknologi yang ditawarkan.

"Konsumen China bertanya: Mengapa membeli mobil Jerman yang mahal jika mereka bisa mendapatkan teknologi dengan harga jauh lebih murah?" kata Pacheco.

Analis otomotif Bernstein, Stephen Reitman, juga menyoroti persoalan diferensiasi produk Volkswagen. Ia mengingat bahwa Volkswagen memperlihatkan desain komputer model kendaraan yang dikembangkan bersama Xpeng kepada para analis pada April 2024.

"Keesokan harinya, kami pergi ke pameran otomotif Beijing dan pada dasarnya bisa melihat desain seperti ini sudah ada di pasar," ujar Reitman.

Jaringan Dealer Terbatas Hambat Penjualan

Selain persoalan teknologi dan harga, strategi distribusi turut membebani penjualan UNYX 08.

Baca Juga: Upah Pekerja Inggris Naik Tipis, Kendati Kenaikannya Lebih Tinggi dari Proyeksi

Volkswagen sebagian besar memasarkan kendaraan tersebut melalui jaringan dealer baru yang dikelola Volkswagen Anhui, usaha patungan yang berfokus pada kendaraan listrik. Strategi ini berbeda dari pendekatan Volkswagen yang selama ini mengandalkan lebih dari 3.000 dealer melalui kerja sama dengan FAW dan SAIC.

Menurut lima sumber yang diwawancarai Reuters, penggunaan jaringan distribusi terpisah memperbesar tantangan pemasaran produk. Dua sumber menyebut jangkauan Volkswagen Anhui yang jauh lebih kecil membuat banyak konsumen tidak mengetahui keberadaan UNYX 08.

Volkswagen menyatakan penjualan model-model Anhui, termasuk UNYX 06 dan UNYX 07, terus tumbuh. Perusahaan juga mengatakan jaringan penjualannya telah berkembang menjadi 166 gerai dan mulai bekerja sama dengan FAW-Volkswagen di sejumlah dealer untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Kendati demikian, persaingan semakin sulit bagi produsen asing. Merek China, termasuk BYD dan Geely, terus memperkuat posisi melalui peluncuran kendaraan dengan teknologi perangkat lunak yang lebih kaya, siklus pengembangan lebih cepat, dan harga yang kompetitif.

Stefan Bratzel, pendiri sekaligus direktur Center of Automotive Management di Jerman, menilai Volkswagen terlambat membangun kemampuan yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar saat ini.

"Volkswagen terlalu lambat dalam membangun kompetensi yang mereka butuhkan saat ini," kata Bratzel.

Situasi tersebut juga mencerminkan persoalan yang dihadapi banyak produsen otomotif asing di China. Setelah tertinggal dalam teknologi baterai, perangkat lunak, dan platform kendaraan, perusahaan-perusahaan asing beralih menggandeng mitra lokal. Namun, kolaborasi teknologi tidak otomatis membuat mereka mampu menyamai kecepatan inovasi maupun daya tarik merek domestik.

Target Penjualan Sedan UNYX 09 Tetap Agresif

Meski penjualan UNYX 08 belum memenuhi harapan, Volkswagen masih memasang target ambisius untuk model berikutnya yang dikembangkan bersama Xpeng, yakni sedan UNYX 09. Mobil tersebut dijadwalkan memasuki jaringan penjualan pada Oktober 2026.

Dokumen perencanaan produk perusahaan pada awal tahun ini memperkirakan penjualan rata-rata hampir 4.900 unit per bulan. Volume penjualan tahunan bahkan diproyeksikan melampaui 90.000 unit pada 2034.

Reuters melaporkan bahwa target penjualan yang tinggi dapat menjadi faktor penting dalam memperoleh persetujuan kantor pusat Volkswagen di Wolfsburg untuk pengembangan model baru. Dua sumber yang mengetahui proses perencanaan perusahaan menyebut kondisi tersebut dapat mendorong manajer mengajukan proyeksi yang optimistis.

Dokumen perusahaan menunjukkan Volkswagen semula menargetkan penjualan kumulatif UNYX 08 sebanyak 32.600 unit hingga akhir 2026 dan 70.400 unit pada 2027. Dalam perencanaan awal yang disusun pada 2024, perusahaan bahkan memperkirakan penjualan tahunan model tersebut dapat melampaui 120.000 unit pada tahap selanjutnya dari siklus produknya.

Namun, pada awal 2026, Volkswagen memangkas proyeksi penjualan UNYX 08 tahun ini lebih dari 60% menjadi 12.300 unit. Untuk 2027, perusahaan memperkirakan penjualan mencapai 64.000 unit, sekitar 10% di bawah target awal.

Dalam beberapa pekan terakhir, Volkswagen juga menawarkan UNYX 08 dengan diskon 17% dari harga saat peluncuran April. Langkah tersebut mengindikasikan upaya perusahaan untuk meningkatkan daya tarik produk di tengah persaingan yang ketat.

Baca Juga: Kerusuhan Prancis Perburuk Krisis Politik Macron, Marine Le Pen Diuntungkan

Kemitraan Lokal Volkswagen di China Penuh Tantangan

Upaya Volkswagen menjalin kemitraan dengan produsen otomotif China sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun. Pada 2019, Volkswagen Group China menyampaikan rencana menghadirkan hampir 40 model kendaraan energi baru yang diproduksi secara lokal pada 2025, termasuk mobil listrik berbasis baterai dan kendaraan hibrida plug-in.

Perusahaan juga menargetkan pengiriman 1,5 juta kendaraan energi baru di China pada tahun tersebut. Namun, berdasarkan data perusahaan, pengiriman mobil listrik berbasis baterai Volkswagen di China pada 2025 hanya mencapai 115.500 unit, kurang dari sepersepuluh target yang pernah diumumkan.

Seiring pertumbuhan pasar kendaraan listrik China, Volkswagen menjajaki berbagai kerja sama dengan perusahaan lokal untuk mengejar ketertinggalan teknologi dan kemampuan pengembangan produk.

Dua sumber yang mengetahui kemitraan Volkswagen di China mengatakan perusahaan menggambarkan pendekatan tersebut sebagai "pernikahan dan perceraian". Artinya, Volkswagen membentuk aliansi dengan perusahaan lokal untuk mempelajari kemampuan yang dibutuhkan, kemudian mengakhiri kerja sama setelah memperoleh pengetahuan yang dianggap cukup.

Sekitar periode ketika Ralf Brandstaetter menjabat sebagai CEO Volkswagen China pada Agustus 2022, perusahaan disebut menjajaki kerja sama dengan BYD. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan platform BYD Dolphin untuk merek Jetta. Namun, menurut dua sumber tersebut, BYD tidak tertarik bekerja sama. Reuters menyatakan tidak dapat memastikan alasan gagalnya kesepakatan itu.

Volkswagen juga dikabarkan menjajaki kemitraan dengan Leapmotor pada 2023. Namun, Stellantis akhirnya menjalin kesepakatan dengan produsen kendaraan listrik China tersebut pada tahun yang sama.

Setelah laporan Reuters dipublikasikan, Volkswagen membantah pernah melakukan pembicaraan dengan BYD mengenai kerja sama. BYD tidak memberikan komentar, sedangkan Leapmotor tidak menanggapi pertanyaan Reuters.

Sejumlah kerja sama Volkswagen di China juga menghadapi masalah. Proyek mobil terbang yang dibatalkan dilaporkan terjerat sengketa hukum dengan mitra lokal. Sementara itu, usaha patungan dengan perusahaan rintisan Du-Power untuk membangun stasiun pengisian cepat berakhir dengan perselisihan pemegang saham, proses hukum, serta keluhan pemasok terkait tagihan yang belum dibayar.

Volkswagen mengatakan Mahkamah Agung Rakyat China telah menolak gugatan Du-Power pada Maret 2026. Pihak Du-Power maupun pengadilan tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan Reuters.

Pasar Otomotif China Tertekan, Pangsa Volkswagen Menyusut

Persoalan Volkswagen berlangsung di tengah perlambatan pasar otomotif China setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan pesat.

Dalam pesan kepada karyawan pada 10 September yang ditinjau Reuters, Brandstaetter menggambarkan industri otomotif China sedang menghadapi kontraksi yang luar biasa. Ia memperkirakan pasar mobil penumpang China menyusut 20% pada 2026, atau sekitar 4,5 juta kendaraan.

Brandstaetter juga menyebut margin keuntungan industri turun menjadi 1,5%. Sementara itu, siklus pengembangan produk menyusut dari tujuh tahun menjadi tiga tahun. Model kendaraan listrik baru bahkan dapat mengalami penurunan penjualan tajam hanya tiga bulan setelah diluncurkan.

Baca Juga: China Kerahkan Militer Pantau Kapal Perang AS di Laut China Selatan

Dalam kondisi tersebut, Volkswagen perlu menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan pasar dan menghilangkan duplikasi yang tidak diperlukan di antara merek maupun entitas bisnisnya di China.

Pergeseran persaingan terlihat dari penurunan pangsa pasar Volkswagen. Pada 2019, satu dari setiap lima mobil penumpang yang terjual di China merupakan produk Volkswagen. Namun, dalam delapan bulan pertama 2026, pangsa pasar grup tersebut turun menjadi 10%, berdasarkan data China Passenger Car Association.

Ketergantungan Volkswagen pada pasar China dan kesulitannya melakukan transformasi bisnis secara cepat menjadi faktor yang membedakan tantangan perusahaan tersebut dari pesaing lainnya.

Seorang mantan petinggi Volkswagen bahkan membandingkan kondisi perusahaan dengan Nokia, Kodak, dan BlackBerry, yang pernah mendominasi industrinya tetapi kesulitan beradaptasi ketika teknologi dan preferensi konsumen berubah.

Meski demikian, pendiri perusahaan konsultan Automobility yang berbasis di Shanghai, Bill Russo, menilai perbandingan tersebut seharusnya menjadi peringatan, bukan kesimpulan akhir mengenai masa depan Volkswagen. Menurut dia, perusahaan masih memiliki peluang untuk memulihkan bisnisnya.

"Risikonya adalah pasar bergerak lebih cepat daripada kemampuan perusahaan untuk mengubah dirinya sendiri," kata Russo.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×