Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – TOKYO. Toyota Motor Corporation memperkirakan dampak perang Iran akan membebani kinerja perusahaan hingga sekitar US$ 4,3 miliar pada tahun fiskal ini. Proyeksi tersebut menjadi salah satu peringatan terbesar sejauh ini dari perusahaan global terkait dampak luas konflik geopolitik terhadap industri dunia.
Produsen mobil terbesar di dunia itu pada Jumat melaporkan laba kuartalan yang anjlok hampir 50%. Toyota juga memperkirakan laba tahun penuh akan turun sekitar seperlima pada tahun fiskal yang baru dimulai.
Kenaikan biaya akibat perang disebut menjadi faktor utama yang menekan kinerja perusahaan, meskipun permintaan kendaraan hybrid terus meningkat.
Pejabat grup akuntansi Toyota, Takanori Azuma, mengatakan sebagian besar tekanan senilai 670 miliar yen atau sekitar US$ 4,3 miliar berasal dari lonjakan biaya bahan baku. Sisanya berasal dari keterlambatan pengiriman dan penurunan volume penjualan.
Menurut Azuma, dampak perang Iran dirasakan di berbagai lini operasional perusahaan, mulai dari kenaikan biaya bahan bakar, transportasi, hingga harga cat dan material lain yang digunakan di pabrik perakitan kendaraan.
Baca Juga: Impor Kontainer AS Turun 5,5% pada April 2026 di Tengah Ketidakpastian Perdagangan
Di sisi lain, Toyota memperkirakan penjualan kendaraan hybrid akan melampaui 5 juta unit untuk pertama kalinya tahun ini. Lonjakan harga energi akibat konflik mendorong konsumen beralih ke kendaraan hemat bahan bakar.
Namun demikian, peningkatan permintaan mobil hybrid belum cukup untuk menutupi tekanan biaya produksi yang terus membengkak.
Proyeksi Toyota dinilai lebih besar dibandingkan banyak perusahaan global lainnya, termasuk maskapai penerbangan. Berbeda dengan sebagian perusahaan lain, Toyota juga menanggung tambahan beban karena berkomitmen membantu pemasok dalam grupnya menghadapi kenaikan biaya.
Laba operasional Toyota tercatat sebesar 569,4 miliar yen untuk periode tiga bulan hingga 31 Maret 2026, turun dari 1,1 triliun yen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi laba kuartalan terendah Toyota dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Untuk tahun fiskal berjalan, Toyota memperkirakan laba operasional sebesar 3 triliun yen. Angka itu jauh di bawah median estimasi 23 analis dalam survei LSEG yang mencapai 4,59 triliun yen.
Saham Toyota ditutup melemah sekitar 2,2% dan menjadi level penutupan terendah sejak pertengahan Oktober.
Kinerja ini juga menjadi laporan keuangan pertama Toyota di bawah kepemimpinan CEO baru, Kenta Kon. Mantan kepala keuangan perusahaan tersebut dikenal memiliki pendekatan ketat terhadap efisiensi biaya.
Baca Juga: China Naikkan Harga BBM Mulai 9 Mei di Tengah Gejolak Minyak Global
Kon mengatakan Toyota akan terus mengidentifikasi pemborosan satu per satu sambil mempertahankan kemampuan perusahaan menghasilkan laba besar di tengah tekanan berat.
Selain dampak perang Iran, Toyota juga menghadapi tantangan dari kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan tarif tersebut disebut membebani Toyota hingga 1,4 triliun yen pada tahun fiskal sebelumnya.
Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah menambah tekanan bagi industri otomotif global yang sebelumnya telah menghadapi perang tarif dan persaingan ketat dari produsen mobil China.
Pekan ini, CEO Volkswagen Oliver Blume juga menyatakan bahwa tarif perdagangan menjadi beban sekitar 5 miliar euro per tahun terhadap laba operasional perusahaan otomotif asal Jerman tersebut.
Toyota sebelumnya juga menyampaikan bahwa penjualan di kawasan Timur Tengah turun tajam pada Maret setelah pengiriman kendaraan ke wilayah tersebut mengalami gangguan akibat konflik.













