kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Perang Iran Redupkan Prospek Ekonomi Global, IMF Peringatkan Risiko Inflasi


Senin, 30 Maret 2026 / 22:40 WIB
Perang Iran Redupkan Prospek Ekonomi Global, IMF Peringatkan Risiko Inflasi
ILUSTRASI. IMF (REUTERS/Yuri Gripas)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Perang di Timur Tengah mulai membebani perekonomian global. International Monetary Fund (IMF) memperingatkan konflik yang melibatkan Iran telah mengganggu banyak negara dan memperburuk prospek ekonomi dunia.

Dalam blog yang dirilis para ekonom utamanya pada Senin (30/3/2026), IMF menyebut perang yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah menimbulkan guncangan global yang tidak merata (asymmetric shock) serta memperketat kondisi keuangan.

Baca Juga: Powell: The Fed Pilih “Wait and See” Dampak Perang Iran terhadap Ekonomi

Penutupan jalur strategis Selat Hormuz oleh Iran serta kerusakan infrastruktur energi regional disebut menjadi salah satu gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak global, menurut data dari International Energy Agency.

IMF menekankan bahwa dampak ke depan sangat bergantung pada durasi konflik, luas penyebaran perang, serta tingkat kerusakan terhadap infrastruktur dan rantai pasok global.

“Meski jalur dampaknya bisa berbeda-beda, ujungnya sama: harga lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi lebih lambat,” tulis para ekonom IMF.

Negara berpendapatan rendah disebut menjadi pihak paling rentan, terutama karena lonjakan harga pangan dan pupuk yang berpotensi memicu krisis ketahanan pangan.

Di sisi lain, negara maju justru tengah mengurangi bantuan internasional, sehingga mempersempit ruang dukungan bagi negara berkembang.

Baca Juga: Ultimatum Baru Trump ke Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka, Atau Hancur!

IMF juga mengingatkan bahwa lonjakan harga energi dan pangan yang berkepanjangan dapat mendorong inflasi global lebih tinggi.

Secara historis, kenaikan tajam harga minyak sering kali berujung pada tekanan inflasi sekaligus perlambatan ekonomi.

Selain itu, konflik berpotensi membentuk ekspektasi bahwa inflasi akan bertahan lebih lama. Hal ini bisa memicu kenaikan upah dan harga secara berkelanjutan, sehingga menyulitkan otoritas moneter dalam meredam gejolak tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

IMF dijadwalkan merilis proyeksi lengkap dalam laporan World Economic Outlook pada 14 April mendatang, bertepatan dengan pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington.




TERBARU

[X]
×