kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Perang Timur Tengah Memanas, Kontrak Berjangka Wall Street Kembali Tertekan


Kamis, 05 Maret 2026 / 15:47 WIB
Perang Timur Tengah Memanas, Kontrak Berjangka Wall Street Kembali Tertekan


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat atau futures Wall Street bergerak melemah pada Kamis waktu setempat. Pelaku pasar masih mencerna dampak meluas dari konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, setelah pasar sempat mencatatkan pemulihan terbatas sehari sebelumnya.

Ketegangan meningkat setelah Iran kembali meluncurkan gelombang baru rudal ke Israel pada hari yang sama. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah upaya di Washington untuk menghentikan serangan udara Amerika Serikat menemui jalan buntu.

Situasi tersebut mendorong investor kembali mencari aset lindung nilai. Harga emas dan dolar AS terus menguat, sementara obligasi pemerintah AS (Treasuries) mengalami tekanan. Imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun bahkan naik ke level tertinggi sejak awal Februari.

Di sisi lain, harga minyak melanjutkan reli tajamnya. Setelah melonjak lebih dari 3% pada perdagangan hari itu dan naik lebih dari 15% sepanjang pekan ini, harga minyak terus menguat seiring konflik yang telah memasuki hari keenam.

Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat menekan perekonomian secara luas serta memperumit prospek kebijakan moneter bank sentral AS.

Baca Juga: Harga Aluminium Naik Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Pasokan dari Timur Tengah

Pada pukul 02.40 waktu New York, kontrak berjangka Dow Jones turun 185 poin atau 0,38%. Sementara itu, futures S&P 500 terkoreksi 14 poin atau 0,2%, dan futures Nasdaq 100 melemah 62,75 poin atau sekitar 0,25%.

Meski kekhawatiran terhadap konflik berkepanjangan dan potensi lonjakan inflasi kembali meningkat akibat harga energi yang lebih mahal, investor tetap cepat melakukan rotasi kembali ke saham teknologi.

Sepanjang pekan ini, indeks Nasdaq masih mencatat kenaikan sekitar 0,6% karena investor memanfaatkan pelemahan harga untuk memborong saham teknologi yang sebelumnya mengalami tekanan besar.

Sebaliknya, indeks S&P 500 masih bergerak sedikit lebih rendah sepanjang pekan berjalan.

Pada perdagangan Rabu sebelumnya, pasar saham AS sempat mencatatkan rebound tipis yang kembali dipimpin oleh saham teknologi. Indeks Nasdaq melonjak 1,29%, indeks S&P 500 naik 0,8%, sementara Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,5%.

Sentimen pasar juga sedikit mereda setelah muncul laporan bahwa Iran terbuka terhadap pembicaraan diplomatik. Selain itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan menjaga stabilitas pasar minyak global.

Baca Juga: RUU Kripto AS Buntu, Trump Tuduh Bank Jadi Penghambat

Reli pasar juga mendapat dukungan dari data terbaru yang menunjukkan aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih cukup solid. Sejumlah pejabat pemerintah juga menilai lonjakan harga minyak tidak akan memberikan dampak besar terhadap inflasi.

Ke depan, investor akan mencermati rilis data klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar hari ini. Setelah itu, perhatian pasar akan beralih ke laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu sinyal terbaru dari bank sentral AS terkait arah kebijakan moneter. Pernyataan dari Wakil Ketua Federal Reserve, Michelle Bowman, dijadwalkan akan menjadi sorotan investor pada perdagangan hari ini.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×