Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri barang mewah global menghadapi tantangan besar akibat lesunya penjualan produk fesyen dan pelemahan belanja konsumen yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Di tengah tekanan tersebut, segmen perhiasan (jewellery) justru muncul sebagai motor pertumbuhan baru yang berpotensi menentukan pemenang dan pihak yang tertinggal di industri barang mewah senilai sekitar US$400 miliar.
Sektor barang mewah sebenarnya diperkirakan kembali tumbuh pada 2026 setelah mengalami kontraksi selama dua tahun berturut-turut. Namun, para analis industri menilai konflik di Timur Tengah masih menekan belanja konsumen pada kuartal pertama, bahkan dampaknya diperkirakan lebih besar pada periode April hingga Juni 2026.
Di sisi lain, tas kulit yang selama ini menjadi penyumbang utama keuntungan perusahaan barang mewah mulai kehilangan daya tarik. Konsumen menilai harga produk tersebut sudah terlalu tinggi, sementara generasi muda semakin kurang tertarik.
Sebaliknya, perhiasan menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik.
Baca Juga: Debut Spektakuler! Saham CXMT Terbang 500% pada Hari Pertama IPO
Meski kontribusinya terhadap total penjualan sebagian besar perusahaan barang mewah masih relatif kecil, analis Vontobel sebelumnya menyebut segmen ini memiliki performa yang jauh melampaui porsinya berkat pertumbuhan yang stabil dan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Reli Harga Emas Dorong Minat Konsumen
Carole Madjo, Kepala Riset Barang Mewah Eropa di Barclays, mengatakan minat terhadap perhiasan meningkat ketika konsumen mulai bosan dengan minimnya inovasi di industri fesyen kelas atas yang tengah mengalami banyak pergantian desainer. Selain itu, reli harga emas turut meningkatkan daya tarik perhiasan sebagai instrumen investasi.
"Seluruh faktor tersebut secara bersamaan membuat perhiasan menjadi sedikit lebih menarik dibandingkan produk fesyen mewah berbahan kulit," ujar Madjo.
Kinerja produsen perhiasan terbesar pun mencerminkan tren tersebut.
Penjualan divisi perhiasan pemilik Cartier dan Van Cleef & Arpels, Richemont, melonjak 24% pada kuartal yang berakhir 30 Juni, jauh melampaui perkiraan analis.
Sementara itu, LVMH, pemilik merek Bulgari dan Tiffany & Co., juga diperkirakan mencatat peningkatan penjualan pada bisnis perhiasan dan jam tangan mewahnya.
Analis Barclays bulan lalu bahkan menaikkan proyeksi pertumbuhan divisi Watches & Jewellery LVMH pada 2026 dari 7% menjadi 8%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 3% yang dibukukan pada tahun sebelumnya.
Divisi tersebut merupakan unit bisnis terbesar ketiga LVMH dengan kontribusi sekitar 13% dari total pendapatan perusahaan yang mencapai 81 miliar euro pada 2025.
Baca Juga: Harga Emas Naik Saat Harga Minyak Anjlok, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed
LVMH dijadwalkan merilis laporan penjualan kuartal kedua pada Senin, disusul Kering pada Selasa dan Hermes pada Rabu.
Perhiasan Jadi Sumber Inovasi Baru
Tidak hanya perusahaan besar, merek-merek perhiasan yang lebih kecil juga mencatat pertumbuhan yang kuat. Kondisi ini mendorong perusahaan fesyen yang selama ini berfokus pada pakaian dan aksesori untuk memperkuat bisnis perhiasannya.
Kering, pemilik Pomellato dan Boucheron, pada April lalu melaporkan penjualan divisi perhiasan barunya meningkat 22% secara sebanding pada kuartal pertama, mengungguli seluruh segmen bisnis lainnya.
Sementara itu, menurut analis Vontobel, bisnis perhiasan Hermes mencatat tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) hampir 30% sejak 2019, meski berasal dari basis bisnis yang masih relatif kecil.
"Bahkan perusahaan yang selama ini dikenal kuat di produk fesyen mewah seperti Hermes, Prada, dan Gucci kini semakin memberikan perhatian pada bisnis perhiasan karena di situlah pertumbuhan saat ini berasal. Jadi, perusahaan ingin memiliki eksposur yang lebih besar terhadap segmen tersebut," kata Madjo.
Tas dan Sepatu Mewah Mulai Kehilangan Peminat
Pergeseran preferensi konsumen dari tas dan sepatu mewah menuju perhiasan berpotensi menjadi tantangan bagi sejumlah pemain besar, termasuk Hermes yang selama ini dikenal berkat eksklusivitas tas Birkin.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Turun Usai Ketegangan Teluk Mereda
Saham Hermes sempat turun sekitar 10% setelah pertumbuhan penjualan kuartal pertamanya berada di bawah ekspektasi pasar, memunculkan pertanyaan mengenai kekuatan model bisnis yang mengandalkan kelangkaan produk.
Claudia D'Arpizio, Senior Partner Bain & Company, mengatakan kategori tas dan sepatu kini menghadapi tekanan yang semakin besar.
"Tas dan sepatu menghadapi tantangan yang signifikan karena keduanya mengalami penurunan daya tarik yang cukup besar di mata konsumen, terutama generasi muda," ujarnya.
Ia menambahkan, selama bertahun-tahun kategori tersebut, khususnya tas, menjadi penyumbang utama pendapatan dan pertumbuhan margin keuntungan. Namun, dinamika setelah pandemi Covid-19 menciptakan lingkungan bisnis yang jauh lebih menantang.
Karena itu, para pelaku industri perlu menemukan formula baru yang mampu mengembalikan daya tarik kategori tersebut.














