Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah meredanya konflik di kawasan Teluk mendorong penurunan harga minyak dunia.
Kondisi ini meredakan kekhawatiran inflasi, memperkuat pasar obligasi, serta meningkatkan optimisme investor menjelang pekan yang dipenuhi rapat bank sentral dan laporan kinerja emiten global.
Iran pada Minggu (26/7/2026) menyatakan akan menghentikan serangan militernya selama Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama. Sementara itu, militer AS dilaporkan mulai mengkhawatirkan menipisnya persediaan amunisi.
Meski demikian, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran masih melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Serangan tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute penting perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Serangan Houthi Lumpuhkan Jalur Laut Merah, Lalu Lintas Kapal Anjlok
Ekonom Kepala Grup National Australia Bank (NAB), Sally Auld, menilai perkembangan terbaru di Timur Tengah memberikan sentimen positif bagi pasar.
"Secara keseluruhan, perkembangan di Timur Tengah tampaknya bergerak ke arah yang lebih positif selama akhir pekan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa harga minyak di atas US$100 per barel cenderung mendorong kedua pihak untuk menahan eskalasi konflik," ujarnya.
Harga minyak jatuh, ekspektasi kenaikan suku bunga Fed menurun
Meredanya ketegangan di Selat Hormuz membuat harga minyak mentah Brent turun 4,7% menjadi US$92,27 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 5% ke level US$84,89 per barel.
Penurunan harga minyak tersebut membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan membuat pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/Fed).
The Fed dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pada Rabu pekan ini. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar sepertiga bagi kenaikan suku bunga, meski sebagian besar analis menilai Ketua The Fed Kevin Warsh kemungkinan tidak akan mendukung langkah tersebut.
Analis Goldman Sachs mengatakan ketidakpastian menjelang rapat Juli kali ini tergolong lebih tinggi dibanding biasanya.
"Investor memandang hasil rapat bulan Juli kali ini sangat tidak pasti. Kemungkinan besar hal itu disebabkan karena perbedaan pandangan di internal The Fed, posisi Kevin Warsh yang masih belum jelas, serta meningkatnya kembali ketegangan dengan Iran yang terjadi selama periode blackout menjelang rapat," tulis Goldman Sachs.
"Kemungkinan akan ada setidaknya satu anggota yang berbeda pendapat dan mendukung kenaikan suku bunga. Namun, mayoritas pengambil keputusan tampaknya tidak akan mendorong kenaikan suku bunga pada pekan ini setelah data inflasi Juni menunjukkan perlambatan," tambahnya.
Selain The Fed, Bank of England dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada Kamis, disusul Bank of Japan pada Jumat. Kedua bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga sambil tetap mewaspadai risiko inflasi.
Baca Juga: PM Jepang Takaichi Membela Kebijakan Penopang Yen, Tapi Tingkat Persetujuannya Turun
Saham teknologi menjadi sorotan
Turunnya harga minyak dan imbal hasil obligasi memberikan dorongan bagi pasar saham global.
Kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,8%, sedangkan Nasdaq futures melonjak 1,3%.
Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 menguat 0,8%, DAX Jerman naik 0,9%, sementara FTSE Inggris bertambah 0,2%.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang menguat tipis 0,2%. Indeks saham Korea Selatan yang didominasi sektor semikonduktor juga naik 0,2%.
Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,5%.
Di China, indeks CSI300 bertambah 0,3% setelah produsen chip CXMT Corp melonjak sekitar 500% pada debut perdagangannya di Bursa Shanghai. Perusahaan tersebut berhasil menghimpun dana sebesar US$8,6 miliar dalam penawaran umum perdana (IPO), terbesar di Asia sepanjang tahun ini.
Laporan keuangan raksasa teknologi dinantikan
Sekitar sepertiga perusahaan anggota indeks S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini.
Berdasarkan data LSEG IBES, laba perusahaan-perusahaan tersebut diperkirakan meningkat 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, tingginya ekspektasi pasar serta meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) membuat hasil yang sangat baik sekalipun belum tentu mampu memuaskan investor.
Besarnya investasi AI kembali menjadi perhatian setelah Wall Street Journal melaporkan Nvidia tengah berdiskusi untuk menyediakan dukungan pendanaan sekitar US$250 miliar kepada OpenAI sebagai bagian dari proyek pembangunan pusat data (data center).
Sejumlah perusahaan teknologi yang akan merilis laporan keuangan pekan ini antara lain Microsoft, Meta Platforms, Amazon, Apple, dan Qualcomm. Selain itu, sejumlah emiten sektor industri, pertahanan, serta kesehatan juga dijadwalkan mengumumkan kinerja mereka.
Data ekonomi AS dan Eropa menjadi perhatian
Selain musim laporan keuangan, investor juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi penting.
Baca Juga: ACLED Beberkan Pola Baru Serangan Militer Myanmar terhadap Warga Sipil
Di Amerika Serikat, perhatian tertuju pada data awal pertumbuhan ekonomi (PDB) kuartal II yang diperkirakan meningkat menjadi 1,5% secara tahunan setelah awal tahun yang relatif lemah.
Pasar juga menunggu rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) Juni, data pendapatan dan belanja masyarakat, klaim pengangguran mingguan, indeks biaya tenaga kerja kuartal II, serta indeks sentimen konsumen Universitas Michigan untuk Juli.
Sementara itu, kawasan euro akan merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal II, indikator sentimen ekonomi Juli, indeks kepercayaan konsumen, inflasi sementara, serta tingkat pengangguran Juni.
Obligasi menguat, dolar melemah
Penurunan harga minyak turut mendorong penguatan pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 4,63%, sementara dolar AS bergerak melemah terhadap mayoritas mata uang utama.
Euro menguat 0,3% menjadi US$1,1408, sedangkan dolar AS melemah 0,2% terhadap yen Jepang ke level 163,54 yen.
Dolar Singapura turut menguat setelah bank sentral negara tersebut secara tak terduga memperketat kebijakan moneternya dengan mengizinkan apresiasi nilai tukar yang lebih cepat.
Di sisi lain, rupiah melemah setelah Gubernur Bank Indonesia mengundurkan diri secara mengejutkan. Langkah tersebut dinilai analis berpotensi memicu kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral serta pengelolaan fiskal Indonesia.
Di pasar komoditas, turunnya imbal hasil obligasi turut meningkatkan daya tarik emas. Harga emas spot naik 1,3% menjadi US$4.103 per ons.














