Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026) setelah meningkatnya konflik di kawasan Teluk mendorong harga minyak mentah menembus US$ 90 per barel, memicu kembali kekhawatiran inflasi.
Di saat yang sama, investor menantikan laporan keuangan emiten-emiten teknologi besar yang akan menjadi ujian bagi reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Rupiah Jadi Mata Uang Asia dengan Pelemahan Terdalam terhadap Dolar AS
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,6% menjadi US$ 90,40 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,3% menjadi US$ 84,39 per barel.
Kenaikan terjadi setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran untuk hari kesembilan berturut-turut. Sebagai balasan, Iran kembali menyerang sejumlah target di kawasan.
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz juga semakin terganggu. Pada Minggu, hanya sedikit kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut, sementara sebuah kapal dilaporkan terbakar.
Kepala Strategi Investasi AMP Shane Oliver mengatakan, risiko terhadap pasar energi akan meningkat apabila konflik terus berlanjut.
"Semakin lama Selat Hormuz ditutup dan perang meningkat, semakin besar risiko harga minyak harus naik hingga sekitar US$ 150 per barel agar permintaan turun dan sesuai dengan penurunan pasokan. Ini bukan skenario dasar kami, tetapi kini kembali menjadi risiko yang tinggi," ujarnya.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Senin (20/7), Saham Energi Melonjak di Tengah Konflik AS-Iran
Kekhawatiran Inflasi Meningkat
Lonjakan harga minyak menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi, meskipun data inflasi konsumen Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan.
Pasar berjangka kini memperkirakan total kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar sekitar 29 basis poin hingga akhir tahun.
Kepala Ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, mengatakan peluang kenaikan suku bunga lebih cepat kini semakin besar.
"Kami masih memperkirakan kenaikan suku bunga baru akan terjadi secara bertahap pada 2027. Namun, keseimbangan risikonya kini bergeser ke arah kenaikan yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya," katanya.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September.
Ekspektasi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun kembali menembus level psikologis 5%, yang cenderung mengalihkan dana investor dari pasar saham ke instrumen pendapatan tetap.
Baca Juga: SpaceX Tunda Uji Terbang Starship, Peluncuran Kini Dijadwalkan Kamis
Saham AI dan Big Tech Jadi Sorotan
Tekanan juga datang dari sektor teknologi setelah investor mulai mempertanyakan valuasi saham-saham AI dan semikonduktor yang dinilai terlalu tinggi.
Indeks Philadelphia Semiconductor telah turun sekitar 10% pekan lalu dan kini terkoreksi sekitar 20% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Juni.
Sentimen pasar semakin terbebani setelah perusahaan AI asal China, Moonshot, meluncurkan model open-weight terbaru Kimi K3, yang diklaim memiliki performa mendekati model AI unggulan milik Anthropic.
Fokus investor pekan ini tertuju pada laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, termasuk Alphabet, Intel, dan Tesla.
Meski demikian, analis Bank of America Savita Subramanian masih optimistis laba perusahaan akan melampaui ekspektasi pasar sekitar 5%, atau tumbuh 28% dibanding tahun lalu.
Sektor teknologi diperkirakan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan laba, sementara laba industri semikonduktor diproyeksikan melonjak sekitar 130% secara tahunan.
Baca Juga: AS Gempur Iran Hari Kesembilan Berturut-turut, Korban Militer Amerika Bertambah
Bursa Asia dan Eropa
Kontrak berjangka S&P 500 bergerak stabil, sementara Nasdaq futures naik tipis 0,1%.
Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 bergerak mendatar, sedangkan DAX dan FTSE masing-masing turun 0,1%.
Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,3%.
Bursa Jepang tutup karena libur nasional, setelah Nikkei anjlok 6,4% sepanjang pekan lalu akibat aksi jual saham teknologi.
Sebaliknya, saham-saham unggulan China menguat 1,4%.
Sementara itu, bursa Korea Selatan yang didominasi saham semikonduktor kembali merosot 4,2%, setelah pekan lalu sudah jatuh hampir 9% akibat aksi jual besar-besaran.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus US$ 90, Konflik AS-Iran Ancam Pasokan Energi Global
ECB dan Pasar Mata Uang
Lonjakan harga minyak juga menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan menggelar rapat kebijakan pada Kamis.
ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga di 2,25%, namun pasar hampir sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga pada September dan suku bunga mencapai 2,75% pada awal tahun depan.
Di pasar valuta asing, euro stabil di US$ 1,1433, sementara dolar AS diperdagangkan di 162,39 yen, mendekati level tertinggi dalam 40 tahun.
Adapun pound sterling bertahan di US$ 1,3449, di tengah penantian pasar terhadap penunjukan menteri keuangan baru oleh Perdana Menteri Inggris yang akan datang, Andy Burnham.
Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi kembali menekan harga emas. Harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 3.998 per ons.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
