Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan ke Iran untuk hari kesembilan berturut-turut pada Senin (20/7/2026).
Di saat yang sama, jumlah personel militer AS yang dipastikan tewas dalam konflik terbaru bertambah menjadi tiga orang, sementara kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz terus meningkat.
Baca Juga: SpaceX Tunda Uji Terbang Starship, Peluncuran Kini Dijadwalkan Kamis
Mengutip Reuters, Komando Pusat Militer AS (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan telah memulai "gelombang baru serangan" yang bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
CENTCOM tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai operasi tersebut.
Namun, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan rudal-rudal AS menghantam sejumlah kota di Iran pada Senin dini hari.
Menurut Tasnim, ledakan terdengar di Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini.
Baca Juga: Iran Klaim Dua Kapal Tanker Meledak di Selat Hormuz, Ancam Pasokan Minyak Dunia
Korban Militer AS Bertambah
Militer AS pada Minggu mengumumkan seorang personelnya tewas pada Sabtu di Irak utara saat melakukan peledakan terkendali terhadap amunisi yang tidak meledak dari drone serang Iran yang telah dijatuhkan.
Sebelumnya pada akhir pekan, militer AS melaporkan dua personel tewas di Yordania dan satu lainnya dinyatakan hilang setelah serangan pada Jumat.
Pada Minggu, CENTCOM mengatakan telah menemukan "jenazah yang belum teridentifikasi" di lokasi serangan tersebut dan proses identifikasi masih berlangsung.
Dengan perkembangan terbaru itu, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik dimulai mencapai 17 orang, sementara lebih dari 420 personel lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Harga Emas Turun ke Dekat US$ 4.000, Dibayangi Inflasi dan Sikap Hawkish The Fed
Iran Balas Serang
Di pihak lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan mendadak ke markas operasi khusus musuh di kawasan Al-Tanf, Suriah.
Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Teheran sebelumnya mengerahkan drone untuk menyerang aset dan peralatan militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Pemerintah Kuwait menyatakan sebuah fasilitas desalinasi kembali menjadi sasaran serangan untuk hari kedua berturut-turut sehingga memicu kebakaran.
Kuwait menyebut serangan tersebut sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil vital.
Baca Juga: Kapitalisasi Bursa China Susut US$ 1,48 triliun, Regulator dan Pelaku Pasar Bergerak
Selat Hormuz Jadi Sorotan
Ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat sejak AS dan Iran kembali terlibat konflik terbuka setelah saling menuduh melanggar perjanjian gencatan senjata.
Pusat Operasi Maritim Angkatan Laut Kerajaan Inggris (UK Maritime Trade Operations/UKMTO) pada Minggu malam juga melaporkan menerima informasi mengenai sebuah kapal yang terbakar di dekat pantai Oman, meski penyebabnya belum dapat dipastikan.
Kekhawatiran terhadap keamanan jalur tersebut ikut mendorong harga minyak dunia melonjak.
Pada Senin, harga minyak mentah Brent naik sekitar 3% hingga menembus US$ 90 per barel, level tertinggi sejak 11 Juni.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati Senin (20/7), Minyak Tembus US$ 90 akibat Konflik Teluk
Trump: Kami Hantam Mereka Sangat Keras
Serangan pada Senin berlangsung sehari setelah CENTCOM menyatakan, gelombang serangan kedelapan menghantam fasilitas radar pantai dan pertahanan udara Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan terbaru dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada personel militer AS yang gugur sejak Jumat.
"Kami menghantam mereka dengan sangat keras lagi malam ini, dan kami melakukannya sebagai penghormatan kepada anggota militer AS yang gugur sejak Jumat," kata Trump kepada wartawan setelah menghadiri final Piala Dunia.
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Bahrain memperingatkan adanya informasi bahwa Iran kemungkinan menargetkan sejumlah lokasi di pusat ibu kota Manama. Warga negara AS di Bahrain diminta tetap waspada.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran dengan tujuan melumpuhkan program nuklir dan rudalnya serta melemahkan kelompok-kelompok sekutu Teheran di kawasan, telah menewaskan ribuan orang terutama di Iran dan Lebanon serta mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dunia.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
