Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkatkan intensitas serangan militer pada Kamis (16/7/2026), menandai memanasnya kembali konflik yang dalam sepekan terakhir telah mengikis efektivitas gencatan senjata yang tercapai bulan lalu.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran juga membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan seorang warga negara Amerika telah dibebaskan oleh Teheran.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Hari Ini, Harga Minyak Melonjak Akibat Memanasnya Konflik Iran-AS
Militer AS menyatakan telah melancarkan serangan udara untuk malam keenam secara berturut-turut terhadap Iran. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), operasi tersebut bertujuan untuk semakin melemahkan kemampuan militer Iran.
Untuk pertama kalinya sejak nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran bulan lalu, AS melancarkan dua gelombang besar serangan udara dalam satu hari pada Rabu (15/7), yang sebagian besar menyasar wilayah pesisir selatan Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, termasuk pangkalan udara di Yordania yang baru diperluas.
Iran menuduh pangkalan tersebut digunakan dalam serangan AS terhadap sebuah rumah sakit kanker anak di Iran pada Rabu malam.
Pada Kamis malam, proyektil AS menghantam Pulau Qeshm dan wilayah dekat Bandar Abbas, lokasi pelabuhan terbesar Iran sekaligus basis penting Angkatan Laut dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang berada di Selat Hormuz.
Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan beberapa lokasi di Bandar Abbas turut menjadi sasaran serangan.
Media Iran juga melaporkan serangan AS terhadap tiga jembatan dan stasiun kereta di Bandar Khamir, serta serangan rudal ke Bandara Iranshahr di tenggara Iran.
Namun, Reuters belum dapat memverifikasi secara independen laporan tersebut.
Baca Juga: Ekspor Nonmigas Singapura Naik 20,7% pada Juni, Meleset dari Perkiraan Pasar
Iran bantah klaim Trump
Di tengah meningkatnya serangan, Presiden Donald Trump pada Rabu menyambut apa yang disebutnya sebagai pembebasan seorang warga negara AS yang ditahan di Iran. Pengacara hak asasi manusia mengidentifikasi warga tersebut sebagai Dena Karari.
Trump menyebut pembebasan itu sebagai isyarat niat baik dari Teheran.
Namun, pada Kamis, lembaga peradilan Iran membantah pernyataan tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa tidak ada warga negara Amerika yang dibebaskan maupun dipertukarkan dari penjara-penjara Iran.
Baca Juga: IEA Peringatkan Krisis Keamanan Energi Global Jika Selat Hormuz Tak Segera Dibuka
Selat Hormuz kembali lumpuh
Eskalasi terbaru kembali mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dan gas paling penting di dunia, sehingga memicu kenaikan harga energi global.
Iran kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz, sementara Washington juga memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak Rabu.
Sumber Reuters menyebut Iran juga memberi sinyal dapat mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb di pintu masuk Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur penting Iran.
Pekan lalu, Iran juga menyerang kapal-kapal yang melintasi koridor pelayaran di kawasan tersebut.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Presiden Trump tidak akan tinggal diam terhadap aksi yang disebutnya sebagai tindakan terorisme di Selat Hormuz.
"Presiden tidak akan membiarkan tindakan terorisme aktif terjadi di selat tersebut tanpa memastikan Iran menerima konsekuensinya," ujar Leavitt.
Meski demikian, ia menegaskan Trump tetap membuka peluang bagi penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Baca Juga: Bursa Jepang Terpuruk, Nikkei Jatuh 3,6% karena Saham Chip dan Risiko Geopolitik
Iran ingin kuasai Selat Hormuz
Sumber Reuters di Iran mengatakan tujuan utama Teheran adalah menegaskan kendali atas Selat Hormuz.
Iran menginginkan seluruh kapal yang melintas menggunakan jalur yang lebih dekat ke pantainya dan telah menyatakan rencana untuk mengenakan biaya lintasan setelah berakhirnya masa negosiasi selama 60 hari yang disepakati dalam nota kesepahaman bulan lalu.
Sebaliknya, Amerika Serikat mendorong kapal-kapal internasional menggunakan jalur alternatif yang berada lebih dekat ke pesisir Oman.
Militer AS menyatakan serangan udara yang dilancarkan menargetkan fasilitas militer Iran di sepanjang pesisir guna melumpuhkan kemampuan Teheran mengendalikan Selat Hormuz.
Namun, juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan serangan tersebut tidak akan berhasil.
Menurutnya, Iran tetap memiliki kemampuan menyerang Selat Hormuz dari berbagai wilayah di dalam negeri.
Baca Juga: Dolar Bersiap Catat Pelemahan Mingguan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda
Presiden Trump juga belum menutup kemungkinan penggunaan pasukan darat, termasuk untuk merebut Pulau Kharg yang menjadi terminal ekspor minyak utama Iran.
Trump kembali mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Direktur Program Iran di Middle East Institute Alex Vatanka menilai, kedua negara kini kembali ke titik awal konflik.
Menurutnya, pada akhirnya AS dan Iran akan dihadapkan pada pilihan untuk meredakan ketegangan atau justru membawa konflik menuju eskalasi yang lebih besar.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
