Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Iran menyatakan kapal-kapal “non-hostile” atau yang tidak bermusuhan dapat melintas dengan aman di Selat Hormuz. Hal itu disampaikan di tengah anjloknya lalu lintas pelayaran yang memicu krisis energi global.
Dalam pernyataan resmi pada Selasa (24/3/2026), misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kapal dapat memperoleh “jalur aman” asalkan tidak terlibat atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran serta mematuhi aturan keselamatan dan keamanan yang ditetapkan.
Dilansir dari Aljazeera, Kamis (26/3/2026), Iran menegaskan bahwa pelayaran harus dilakukan dengan koordinasi bersama otoritas terkait di Teheran. Pernyataan serupa sebelumnya telah disampaikan kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Meski demikian, Iran tidak merinci aturan teknis yang harus dipatuhi kapal untuk melintasi jalur tersebut. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Pernyataan ini muncul di tengah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Iran tengah berlangsung, meski sebelumnya dibantah oleh Teheran.
Baca Juga: Pajak BBM Polandia Dipangkas Jadi 8%, Persiapan Hadapi Lonjakan Harga Global
Lalu Lintas Kapal Anjlok, Risiko Energi Meningkat
Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot tajam. Data perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan hanya lima kapal yang melintas dalam sehari, jauh turun dari rata-rata sekitar 120 kapal per hari sebelum perang.
Pada awal konflik, Iran sempat memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas berisiko diserang. Namun belakangan, pejabat Teheran menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, kecuali bagi pihak yang dianggap musuh.
Anjloknya aktivitas pelayaran ini turut mendorong lonjakan harga energi global. Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak dapat menembus 150 hingga 200 dollar AS per barel jika jalur tersebut tetap terganggu.
Setelah sempat bertahan di atas 100 dollar AS per barel sepanjang Maret, harga minyak Brent turun lebih dari 9 persen pada Rabu. Penurunan ini terjadi setelah laporan media menyebut adanya upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Baca Juga: Negara Asia Antre Beli Minyak Rusia Saat Perang Iran Ganggu Pasokan Global













