Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - WARSAW. Polandia akan memangkas pajak bahan bakar, menetapkan harga eceran maksimum, dan mungkin memberlakukan pajak windfall (keuntungan tak terduga) bagi perusahaan energi. Langkah ini disambut baik oleh pengendara, tetapi saham perusahaan pengilangan milik negara Orlen merosot.
Pemerintah di seluruh Eropa tengah berupaya meredam dampak perang di Iran terhadap harga bahan bakar, dengan negara-negara seperti Romania dan Hongaria telah menetapkan batas harga.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada Kamis (26/3/2026) mengatakan dalam konferensi pers bahwa PPN bahan bakar akan turun menjadi 8% dari sebelumnya 23%, sementara pajak konsumsi (excise duty) akan dipangkas hingga batas minimum Uni Eropa, yaitu 29 groszy untuk bensin dan 28 groszy untuk diesel. Ia menambahkan bahwa Polandia tengah menyiapkan pajak windfall untuk perusahaan minyak.
Baca Juga: Afrika Selatan Pertahankan Suku Bunga 6,75% di Tengah Krisis Energi
“Sebelum libur Paskah, kami harus melihat harga turun sekitar 1,2 zloty per liter untuk semua jenis bahan bakar,” kata Tusk.
Tusk mengaku ingin mengurangi ini berdampak nyata pada harga, bukan sekadar menguntungkan pelaku perdagangan bahan bakar. “Selama periode pengurangan PPN dan pajak konsumsi ini, kami akan memperkenalkan harga eceran maksimum untuk bahan bakar,” ujar dia.
Tusk juga menyatakan Polandia akan mengambil langkah jika diperlukan untuk mencegah pengendara asing memanfaatkan pemotongan harga. Negara ini akan mempelajari sistem Slovakia, di mana mobil dengan plat asing membayar lebih tinggi dibanding kendaraan lokal di SPBU.
“Kami tidak akan ragu menggunakan alat-alat seperti ini jika diperlukan. Kami akan memantau beberapa hari ke depan untuk melihat apakah skala permasalahan membutuhkan tindakan tersebut,” ujar dia.
Pajak, termasuk PPN dan pajak konsumsi, menyumbang lebih dari 40% dari harga di pompa. Sementara Orlen mengklaim telah menurunkan margin ritel hampir nol, harga diesel grosir naik sekitar 50% sejak akhir Februari setelah serangan AS dan Israel ke Iran, diikuti serangan Iran ke negara-negara Teluk.
Kenaikan harga bahan bakar menjadi titik kritik bagi oposisi nasionalis, yang menuding pemerintah lambat bertindak dan menyoroti beberapa negara Eropa yang telah lebih dulu meluncurkan langkah-langkah bantuan.
Baca Juga: Negara Asia Antre Beli Minyak Rusia Saat Perang Iran Ganggu Pasokan Global













