Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia berpotensi melanjutkan kenaikan pada perdagangan awal pekan ini seiring memanasnya konflik di Timur Tengah yang memasuki minggu ketiga.
Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi sekaligus mempertahankan penutupan jalur vital pengiriman minyak global.
Baca Juga: Anomali Perang Iran: AS Optimis Usai Cepat, Iran Tegas Tolak Negosiasi
Konflik tersebut menyebabkan gangguan besar pada pasokan energi dunia, terutama karena penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak global.
International Energy Agency (IEA) pada Minggu (15/3/2026) menyatakan bahwa lebih dari 400 juta barel cadangan minyak akan segera dilepas ke pasar guna meredam lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah.
Cadangan minyak dari kawasan Asia-Oseania akan mulai disalurkan segera, sementara pasokan dari Eropa dan Amerika diperkirakan tersedia pada akhir Maret.
Harga minyak mentah global melonjak tajam sepanjang bulan ini. Kontrak minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik lebih dari 40% dan mencapai level tertinggi sejak 2022.
Baca Juga: Kapal India Berisi Minyak Murban Berlayar dari Fujairah Usai Serangan Drone
Lonjakan harga terjadi setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu Teheran menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mendesak negara sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran tersebut.
Menurut laporan Wall Street Journal, pemerintah AS juga tengah menyiapkan koalisi internasional untuk mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Trump juga mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg setelah sebelumnya militer AS menyerang target militer di wilayah tersebut pada Sabtu.
Ancaman tersebut memicu respons keras dari Iran yang menyatakan siap melakukan pembalasan.
Tak lama setelah serangan terhadap Kharg, drone Iran dilaporkan menghantam terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab.
Baca Juga: Operasi Bongkar Muat Minyak Fujairah Kembali Berjalan Usai Serangan Drone
Analis dari JPMorgan, Natasha Kaneva, menilai peristiwa tersebut menandai eskalasi baru dalam konflik yang berpotensi meningkatkan risiko terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk.
Selain terminal Fujairah, analis JPMorgan juga menilai terminal ekspor minyak Ras Tanura dan fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi sebagai infrastruktur energi yang sangat rentan terhadap serangan.
Meski demikian, sumber industri di Fujairah menyebutkan bahwa kegiatan pemuatan minyak di terminal tersebut telah kembali berjalan.
Fujairah sendiri menjadi jalur ekspor sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah Murban milik Uni Emirat Arab, setara dengan sekitar 1% dari permintaan minyak dunia.
IEA memperkirakan pasokan minyak global dapat turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret akibat gangguan pengiriman.
Baca Juga: Zelenskyy Tawarkan Bantuan Lawan Drone Iran, Ukraina Minta Dana dan Teknologi
Selain itu, produsen minyak di Timur Tengah juga telah memangkas produksi setidaknya 10 juta barel per hari.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan konflik dengan Iran dapat berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Jika konflik mereda, pasokan minyak diperkirakan kembali meningkat dan harga energi akan turun.
Namun peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih kecil. Pemerintah AS dilaporkan menolak sejumlah upaya negara Timur Tengah untuk memulai negosiasi diplomatik.
Di sisi lain, Iran juga menegaskan tidak akan mempertimbangkan gencatan senjata sebelum serangan militer Amerika Serikat dan Israel dihentikan.













