Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Lonjakan permintaan investor untuk melindungi aset-aset berbasis dolar AS dari pelemahan nilai tukar berpotensi menguji kemampuan bank-bank global dalam menyediakan layanan lindung nilai (hedging). Hal ini disampaikan seorang pedagang senior UBS, salah satu pelaku terbesar di pasar valuta asing dunia.
Nilai tukar dolar AS tercatat telah melemah hampir 10% terhadap mata uang utama lainnya sepanjang tahun lalu, dan kembali turun sekitar 2% sepanjang bulan ini. Pelemahan tersebut sebagian dipicu oleh ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat, yang mendorong investor asing semakin aktif mencari perlindungan atas kepemilikan aset mereka di AS.
“Jika aktivitas lindung nilai dolar meningkat secara signifikan dan ini semakin sering menjadi topik pembicaraan kami dengan klien maka persoalannya adalah kapasitas struktural,” ujar Ben Pearson, Kepala Global Perdagangan Suku Bunga Jangka Pendek G10 UBS, kepada wartawan pada Selasa.
Baca Juga: CEO Tether Menargetkan Alokasi Hingga 15% Portofolio ke Emas
Pasar valuta asing global dikenal sebagai salah satu pasar paling likuid di dunia, dengan volume transaksi harian mendekati US$ 10 triliun. Namun, menurut estimasi Barclays, investor saat ini baru melindungi sekitar 48% dari total aset berbasis dolar AS yang mereka miliki.
Rasio lindung nilai tersebut sulit dipastikan secara akurat karena berbeda antar investor dan umumnya bersifat tertutup. Barclays memperkirakan rasio tersebut sempat berada di kisaran 46% pada awal tahun lalu dan meningkat hingga sekitar 50% setelah guncangan tarif pada April.
Pearson memperingatkan lonjakan mendadak permintaan lindung nilai dapat memberikan tekanan besar pada sistem keuangan. “Kenaikan rasio lindung nilai sebesar 5 poin persentase untuk seluruh pemegang aset AS di luar negeri akan berarti penjualan dolar sekitar US$1,5 triliun,” jelas dia. Sistem ini hanya bisa menyerapnya jika tersedia kapasitas neraca bank yang memadai.
Bank-bank yang menyediakan layanan lindung nilai bagi manajer aset dan perusahaan, menurut Pearson, mungkin harus dengan cepat mengalihkan dana dalam jumlah besar dengan keluar dari transaksi lain demi memenuhi permintaan klien.
Ia menambahkan industri perbankan menyadari risiko tersebut dan tengah mencari alternatif instrumen serta solusi lain. Namun, tetap ada kekhawatiran mengenai kemungkinan keterbatasan kapasitas.
“Pertanyaannya adalah apakah ada skenario di mana keterbatasan kapasitas memaksa dealer membuat keputusan sulit tentang klien mana yang mendapatkan akses ke neraca mereka, dan mana yang tidak,” ujar Pearson.













