Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Sekelompok besar eksekutif (CEO) perusahaan Jepang menunda rencana kunjungan mereka ke Beijing. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa ketegangan diplomatik antara Jepang dan China mulai mendinginkan hubungan bisnis dua ekonomi terbesar di Asia tersebut.
Melansir Bloomberg, delegasi yang terdiri dari sekitar 200 pemimpin bisnis memutuskan untuk tidak jadi berangkat dalam agenda yang semula dijadwalkan pada 20 Januari, menurut keterangan Japan-China Economic Association pada Rabu (31/12/2025). Organisasi tersebut menyebut kesulitan mengatur pertemuan dengan pejabat pemerintah China sebagai alasan utama. Hingga kini, belum ada tanggal pengganti yang ditetapkan.
Ini merupakan kali pertama dalam lebih dari 13 tahun kunjungan tahunan tersebut batal akibat kebuntuan politik. Situasi ini mencerminkan kekecewaan Beijing terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait Taiwan.
“Dalam kondisi hubungan Jepang–China saat ini, kami telah berupaya keras agar delegasi ini tetap terlaksana,” demikian pernyataan asosiasi tersebut. “Namun, kami kesulitan mendapatkan ruang dialog yang memadai dengan lembaga pemerintah China, termasuk pertemuan dengan para pemimpin nasional.”
Baca Juga: Dolar AS Ambruk Paling Dalam Hampir 10 Tahun, Rubel Rusia Justru Meroket
Kunjungan ini rutin dilakukan sejak 1975, kecuali saat pandemi dan pada 2012 ketika hubungan kedua negara memburuk akibat sengketa pulau di Laut China Timur. Saat itu, kunjungan sempat ditunda namun akhirnya terlaksana pada tahun berikutnya.
Menanggapi pembatalan ini, Kementerian Luar Negeri China kembali mengecam pernyataan Takaichi yang disebut “keliru”. Juru bicara Lin Jian mendesak Tokyo menarik pernyataan tersebut agar menciptakan kondisi yang diperlukan bagi pertukaran normal antara China dan Jepang.
Delegasi tersebut sejatinya akan diisi oleh petinggi perusahaan besar seperti Mitsubishi Corp. dan Panasonic Holdings, serta perwakilan dari kelompok bisnis utama Jepang, Keidanren dan Kamar Dagang dan Industri Jepang.
Tonton: Trump Singgung Iran Saat Bertemu Netanyahu, Sinyal Baru Eskalasi Timur Tengah?
Menurut draf agenda, mereka berharap dapat bertemu Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang. Pada 2024, Li sempat menemui delegasi serupa, sementara Wakil Perdana Menteri He Lifeng menjadi tuan rumah pertemuan pada awal 2025.
Kesimpulan
Pembatalan kunjungan tahunan para CEO Jepang ke China menjadi sinyal serius bahwa konflik politik (khususnya soal Taiwan) mulai berdampak nyata pada hubungan bisnis kedua negara. Meski China dan Jepang saling bergantung secara ekonomi, ketegangan diplomatik kini terbukti mampu menghambat dialog tingkat tinggi, memicu pembalasan ekonomi terselubung, dan berpotensi menekan aktivitas perdagangan serta investasi ke depan.













