kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Perusahaan Teknologi China Diperkirakan Masih Susah Dongkrak Kinerja di Tahun Ini


Jumat, 21 Januari 2022 / 13:39 WIB
Perusahaan Teknologi China Diperkirakan Masih Susah Dongkrak Kinerja di Tahun Ini
ILUSTRASI. Regulasi ketat Pemerintah China tampaknya masih akan berpengaruh pada kinerja raksasa teknologi China.


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Regulasi dari Pemerintah China yang ketat sejak tahun lalu tampaknya masih akan berpengaruh pada kinerja raksasa teknologi di negara tersebut. Alhasil, pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi China tidak akan ciamik seperti beberapa tahun sebelumnya.

Misalnya, ByteDance yang dikabarkan pertumbuhan pendapatannya di tahun 2021 hanya sekitar 70% dari tahun sebelumnya dengan nilai mencapai US$ 58 miliar. Padahal, di tahun sebelumnya pertumbuhan pendapatan bisa mencapai 100%.

Regulasi ketat China telah mempengaruhi kinerja raksasa teknologi lain seperti Alibaba dan Tencent. Salah satu regulasi yang mempengaruhi kinerja raksasa tersebut adalah bagaimana perusahaan melakukan kesepakatan dan berinteraksi dengan penggunanya.

Sekadar informasi, Alibaba melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 29% untuk kuartal III 2021 atau per September 2021 mencapai 200,7 miliar yuan. Perusahaan ini memprediksi bahwa pendapatan akan tumbuh menjadi 23% pada tahun fiskal 2022 yang berakhir 31 Maret 2022, lebih rendah dari 27% yang diprediksi oleh para analis. 

Baca Juga: Jack Ma Muncul di Sekolah Dasar Hainan Saat Yayasannya Rayakan Ulang Tahun ke-7 Perusahaan Teknologi China Diperkirakan Masih Susah Dongkrak Kinerja Tahun Ini

Sementara, Tencent Holdings pun hanya melaporkan peningkatan laba 3% pada kuartal III 2021 menjadi 39,5 miliar yuan. Sedangkan pendapatan meningkat 13% menjadi 142,37 miliar yuan, di bawah perkiraan konsensus 28 analis senilai 145,41 miliar yuan.

Raksasa teknologi China juga dirugikan oleh penjualan iklan online yang lebih rendah. Sebuah laporan oleh satu kelompok riset pemasaran lokal yang dikutip dari Reuters, Jumat (21/1) menyebutkan, pertumbuhan keseluruhan penjualan iklan online di China turun menjadi sekitar 9% tahun lalu, dari hampir 14% di tahun sebelumnya.

Untuk ByteDance sendiri, mereka telah merampingkan lengan investasinya yang kuat  mengantisipasi pembatasan yang lebih ketat dalam pembuatan kesepakatan. Oleh karenanya, hal tersebut menghambat kemampuannya untuk meningkatkan pertumbuhan di masa depan.

Bahkan, perusahaan sepertinya akan menunda rencana listing di bursa. Padahal, rencana tersebut sudah sempat mencuat di publik pada tahun lalu.

Sedangkan Alibaba Grup, selama beberapa bulan mendatang, mereka akan melakukan perubahan yang lebih tersegmentasi, beralih dari strategi super-aplikasi ke strategi entri multi-aplikasi, yang diharapkan dapat membantu perusahaan untuk merespons persaingan pasar dengan lebih baik. 

Alibaba pun perlu memperkuat bisnis e-commerce intinya di kota-kota tingkat satu dan dua di China dengan memanfaatkan keunggulan teknologinya dalam AI dan wawasan data besar. 

Eksekutif top Alibaba telah menetapkan target nilai barang dagangan kotor hingga US$ 100 miliar untuk aplikasi e-commerce Asia Tenggara, Lazada, dan menguraikan berbagai inisiatif yang akan menyelaraskan perusahaan lebih dekat dengan prioritas kebijakan pemerintah China. Lazada sekarang adalah pengecer online terbesar ketiga di pasar negara berkembang. 

Baca Juga: Rancangan Aturan Baru Beijing, Perusahaan Internet Besar Wajib Izin Sebelum Investasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×