kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.875   -95,00   -0,56%
  • IDX 7.441   103,54   1,41%
  • KOMPAS100 1.037   16,87   1,65%
  • LQ45 760   9,37   1,25%
  • ISSI 262   5,17   2,01%
  • IDX30 401   3,98   1,00%
  • IDXHIDIV20 495   1,94   0,39%
  • IDX80 117   1,87   1,63%
  • IDXV30 135   1,59   1,20%
  • IDXQ30 129   0,82   0,64%

Atasi Gejolak Harga Minyak, Negara G7 Siap Bertindak


Selasa, 10 Maret 2026 / 16:20 WIB
Atasi Gejolak Harga Minyak, Negara G7 Siap Bertindak
ILUSTRASI. Negara-negara G7 siap menerapkan "langkah-langkah yang diperlukan" sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global.  (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Negara-negara G7 siap menerapkan "langkah-langkah yang diperlukan" sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global. Namun, G7 tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat minyak, meskipun harga minyak mentah sempat melampaui US$ 119 per barel karena perang AS-Israel terhadap Iran terus berlanjut.

"Kita belum sampai di sana," kata Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure kepada wartawan di Brussels, setelah memimpin pertemuan telekonferensi para menteri keuangan G7 seperti dikutip Reuters, Senin (9/3/2026).

Ia bilang yang telah disepakati adalah menggunakan alat apa pun yang diperlukan jika perlu untuk menstabilkan pasar, termasuk potensi pelepasan cadangan yang diperlukan.

Baca Juga: Maskapai Global Naikkan Tarif Tiket Akibat Lonjakan Harga Avtur Dampak Perang Iran

Harga minyak mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 pada Senin (9/3/2026), didorong oleh kekhawatiran akan gangguan pengiriman yang berkepanjangan dan penurunan produksi dari beberapa produsen utama yang khawatir akan meningkatnya konflik.

Namun, pasar berbalik arah menjelang akhir hari, dengan harga acuan turun di bawah US$ 90 per barel, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kepada CBS News bahwa perang "hampir" selesai.

Seorang pejabat G7 mengatakan kepada Reuters bahwa ada "konsensus luas" untuk tidak melepaskan cadangan pada tahap ini. "Bukan berarti ada yang menentang, ini hanya soal waktu. Analisis lebih lanjut diperlukan," kata pejabat itu, menambahkan bahwa keputusan akhir akan berada di tangan para pemimpin G7.

Lescure, yang negaranya memegang kepresidenan G7 tahun ini, mengatakan saat ini tidak ada masalah pasokan di Eropa maupun Amerika Serikat.

Negara-negara Barat mengoordinasikan cadangan minyak strategis mereka melalui Badan Energi Internasional yang berbasis di Paris, yang dibentuk setelah krisis minyak tahun 1970-an.

"Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan cadangan," kata para menteri keuangan G7 dalam pernyataan bersama.

Komisioner Ekonomi Eropa Valdis Dombrovskis mengatakan para menteri keuangan G7 tidak membahas kondisi pasar spesifik yang diperlukan untuk memicu pelepasan cadangan minyak strategis, hanya berfokus pada keinginan bersama untuk memanfaatkan cadangan jika perlu.

Baca Juga: Iran Ancam Lanjutkan Blokade Minyak, Trump Siapkan Serangan Besar

Dombrovskis mengatakan diskusi lebih lanjut di antara para menteri energi G7 tentang respons terhadap lonjakan harga minyak akan berlangsung pada hari Selasa.

Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, dan Perdana Menteri Belgia Bart De Wever telah mengundang sekelompok pemimpin Eropa untuk membahas daya saing, termasuk masalah harga energi, dalam konferensi video pada hari Selasa.

Pelepasan Cadangan Minyak

Direktur IEA Fatih Birol mendorong pelepasan cadangan, kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama. Negara tersebut memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.

Negara-negara anggota IEA yang merupakan importir minyak bersih diwajibkan untuk menyimpan setidaknya cadangan minyak senilai 90 hari impor.

IEA mengkoordinasikan pelepasan kolektif terbesar dalam sejarahnya pada tahun 2022 ketika para anggotanya melepaskan lebih dari 180 juta barel minyak setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Anggota IEA menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik dan 600 juta barel cadangan industri lainnya disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.

Baca Juga: NATO Kerahkan Sistem Patriot AS ke Turki, Perkuat Pertahanan dari Ancaman Rudal Iran




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×