kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Philip Falcone: Mantan atlet hoki yang sukses menguasai perusahaan keuangan


Rabu, 05 Oktober 2011 / 10:24 WIB
ILUSTRASI. Won Korea Selatan


Reporter: Gloria Natalia | Editor: Catur Ari

Philip Falcone hidup miskin bersama keluarga dan saudara-saudaranya di Minnesota. Namun dia beruntung karena orang tuanya memberinya kebebasan dan fasilitas di bidang pendidikan. Sempat mencicipi dunia hoki profesional, Falcone akhirnya masuk ke industri keuangan berbekal ilmu ekonomi Harvard. Dari sinilah, pemilik Harbinger Capital Patners memiliki kekayaan bersih mencapai US$ 2.2 miliar dan menjadi orang terkaya ke-540 dunia versi majalah Forbes 2011.

Philip Falcone lahir tahun 1962 di Chisholm, Minnesota, Amerika Serikat. Di kota kecil itu ia tinggal bersama orangtua dan delapan saudaranya. Kehidupan miskin membuat Falcone harus berbagi ranjang bersama 8 saudaranya tiap malam. Ayahnya seorang pengawas fasilitas umum, sedangkan ibunya bekerja di pabrik baju dengan upah 80 sen per jam.

Namun, kemiskinan tak membuat ayah Falcone membatasi pendidikan anak-anaknya. Setelah lulus dari Chisholm Senior High di Minnesota, Falcone mendaftar ke Harvard University. Gregory A. Olson salah satu tetangga Falcone membawanya menuju Cambridge.

Penerbangan dari Minnesota ke Cambridge menjadi pengalaman pertama Falcone naik pesawat. Saat itu, Olson mengingat Falcone sebagai remaja khas kota Minnesota yang takjub melihat kondisi kota besar yang sangat berbeda.

Kemahiran bermain hoki membuat Falcone diterima di Harvard. Ia adalah pemain hoki terbaik di Minnesota, sehingga di Harvard pun dia terkenal sebagai pemain terampil dan pekerja tak kenal lelah. Menurut teman satu tim, Wade C. Lau, Falcone adalah pria yang ingin berhasil.

Pada tahun 1984 Falcone lulus dari jurusan ekonomi Harvard. Lepas kuliah, ia masih fokus mengasah kemampuan bermain hoki. Ia pergi ke Boston dan bermain hoki. Pada tahun 1985, saat memperkuat tim hoki Swedia di Malmö, ia kena cedera kaki. Kecelakaan itu mengakhiri karirnya sebagai atlet hoki.

Tak bisa bermain hoki, Falcone kemudian bekerja di perusahaan sekuritas Kidder, Peabody & Co. Berbekal pengetahuan di bidang ekonomi, ia dipercaya menangani bunga obligasi. Falcone mengatakan, kepindahannya ke sektor finansial adalah proses alami.

Di usia 28 tahun, Falcone membeli sebuah perusahaan kecil di Newark, New Jersey. Namun sayangnya, saat terjadi resesi pada tahun 1990-an usahanya tersendat dan bangkrut pada tahun 1994. Kebangkrutan itu membuatnya jatuh miskin. Ia bahkan tak bisa membayar tagihan listrik apartemen. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga di hidupnya.

Tak menyerah, ia bergabung dengan seorang teman kuliah dan membeli perusahaan yang memproduksi sisir dan produk lain.

Sampai pada tahun 2001, Falcone mendirikan perusahaan hedge fund, Harbinger Capital Partners dengan modal US$ 25 juta. Ia memanfaatkan kondisi yang tertekan untuk mencari celah dan dengan identifikasi nilai kredit yang sedang lemah.

Di Harbinger Capital Partners, pada awalnya Falcone menjadi Chief Investment Officer. Kariernya menjulang ketika ia memimpin tim investasi yang terkonsentrasi pada peluang kredit.

Dalam waktu 2 tahun ia kemudian menjadi miliuner dengan mengelola dua pendanaan dengan total aset kira-kira US$ 9 miliar. Ia juga memiliki sekitar 20% saham di The New York Times Company. Teman-teman kampusnya mengatakan, kesuksesan Falcone adalah bentuk keberanian dan keuletan yang seorang atlet.

Hingga hari ini, Falcone lebih suka disebut sebagai mantan atlet. Di Harbinger Capital Partners, ia mempekerjakan empat lulusan Harvard. Tiga dari mereka mantan pemain hoki. Saat ini tinggal bersama istrinya, Lisa Marie, dan dua putri kembarnya di New York.

Walau sudah berhasil mendulang sukses, Falcone tak lupa kota kecilnya, Chisholm. Tiap kali pulang kampung, ia selalu merasa menemukan pompa bensin yang mampu memompa kembali tenaganya yang habis terkuras. "Saya selalu tak pernah lupa dari mana saya datang. Saya tidak pernah membiarkan uang mengintimidasi saya. Dan, bahkan hari ini, saya tidak pernah mengintimidasi diri dengan uang. Karena itu hanya uang," katanya.




TERBARU

[X]
×