Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - SpaceX untuk pertama kalinya masuk ke pasar obligasi demi mencari pendanaan baru untuk mendukung ekspansi bisnis bernilai besar.
Perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut meluncurkan penawaran surat utang atau obligasi pada Senin (22/6), hanya beberapa hari setelah sukses menggelar penawaran umum perdana saham (IPO) di bursa Nasdaq.
Langkah SpaceX masuk ke pasar obligasi menjadi strategi perusahaan untuk mengubah struktur pendanaannya. SpaceX berupaya mengganti pinjaman jangka pendek dengan utang jangka panjang yang lebih stabil.
Mengutip Reuters, dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk kebutuhan umum perusahaan, membayar kembali fasilitas pinjaman jembatan (bridge loan), serta menutup berbagai biaya terkait.
SpaceX belum mengumumkan nilai penerbitan maupun harga dari obligasi tersebut.
Baca Juga: Wall Street Temukan Formula Baru untuk Menangani IPO Raksasa
Alasan SpaceX Memilih Obligasi
Keputusan SpaceX mencari dana lewat obligasi muncul ketika perusahaan tengah melakukan ekspansi besar-besaran.
SpaceX meningkatkan belanja untuk pengembangan roket generasi terbaru Starship, infrastruktur kecerdasan buatan (AI), hingga memperluas bisnis internet satelit Starlink.
Meski memiliki kebutuhan dana besar, SpaceX memilih menerbitkan obligasi dibanding menjual saham baru.
CEO 50 Park Investments Adam Sarhan mengatakan strategi tersebut membantu SpaceX menghindari dilusi kepemilikan para pemegang saham.
"Dengan Musk mempertahankan kontrol suara mayoritas melalui struktur kelas ganda, penerbitan obligasi menjaga kepemilikan ekonomi pemegang saham yang ada tanpa penerbitan saham baru," kata Sarhan.
Elon Musk sendiri masih mempertahankan kendali besar di SpaceX setelah IPO dengan menguasai 82% hak suara perusahaan.
Baca Juga: SK Hynix Akhirnya Pilih Nasdaq untuk IPO AS, Ternyata Ini Alasannya
Kondisi Keuangan SpaceX Setelah IPO
Penerbitan obligasi dilakukan setelah SpaceX mencatat salah satu IPO terbesar. Perusahaan berhasil mendapatkan dana US$85,7 miliar atau sekitar Rp1.531,5 triliun.
Setelah IPO, cadangan kas SpaceX dilaporkan meningkat hingga mencapai US$100,8 miliar atau sekitar Rp1.801,3 triliun.
Sementara berdasarkan dokumen IPO, perusahaan memiliki kas dan setara kas sebesar US$15,9 miliar atau sekitar Rp284,1 triliun pada akhir Maret.
Sepanjang tahun lalu, pendapatan SpaceX tumbuh 33% menjadi US$18,67 miliar atau sekitar Rp333,6 triliun. Namun, perusahaan masih mencatat rugi bersih akibat besarnya pengeluaran untuk proyek teknologi baru.
Langkah SpaceX masuk ke pasar obligasi juga mendapat respons positif dari lembaga pemeringkat kredit.
Moody's memberikan peringkat "Baa1", sementara Fitch menetapkan rating "BBB+". Keduanya termasuk kategori investment grade, yang menunjukkan SpaceX memiliki kemampuan memadai untuk memenuhi kewajiban utangnya.
Meski demikian, saham SpaceX turun 9% pada perdagangan Senin pagi dan mencatat pelemahan selama tiga sesi berturut-turut setelah perusahaan mengumumkan rencana penerbitan obligasi tersebut.
Baca Juga: Apa Risiko IPO SpaceX? Investor Veteran Jim Chanos Beri Peringatan














