CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Posisi ofensif, Korea Utara disebut-sebut kerahkan 1,2 juta tentara ke garis depan


Rabu, 11 November 2020 / 23:50 WIB


Sumber: Yonhap,Yonhap | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Utara diyakini mengerahkan 1,2 juta tentara "ke depan menuju Zona Demiliterisasi dan dalam posisi ofensif", menurut perkiraan baru-baru ini dari lembaga think tank yang berafiliasi dengan Universitas Pertahanan Nasional Amerika Serikat (AS).

Institute for National Strategic Studies (INSS) mengatakan dalam laporan bertajuk Kajian Strategis 2020, pengerahan pasukan Korea Utara tersebut menimbulkan ancaman konvensional bagi Korea Selatan serta Jepang.

Apalagi, INSS mengatakan, Korea Utara diperkirakan memiliki antara 15 dan 60 hulu ledak nuklir serta sekitar 650 rudal balistik yang mampu mengancam kota-kota di Korea Selatan, Jepang, juga China Timur.

"Melalui pengembangan senjata pemusnah massal, penggunaan senjata kimia, dan sikap agresif pasukan konvensionalnya, DPRK (Korea Utara) mengancam stabilitas regional dan norma-norma global," kata INSS, Rabu (11/11), seperti dikutip Yonhap.

Baca Juga: Lembaga think tank AS sebut Korea Utara punya hingga 60 hulu ledak nuklir

Misil Korea Utara
Misil Korea Utara

"Mereka juga telah menguji rudal balistik antarbenua yang mampu menyerang Amerika Serikat," ungkap INSS.

Selain itu, Pyongyang telah terlibat dalam penjualan dan transfer teknologi militer dengan Iran, membantu memajukan program rudal balistiknya, menurut laporan INSS.

"Pemalsuan mata uang dan perdagangan narkotika telah membantu rezim menghasilkan dana dan mengimbangi dampak sanksi," sebut INSS.

Laporan INSS menyebutkan, Pyongyang mengedarkan US$ 1,25 juta hingga US$ 250 juta mata uang palsu AS. "Ada tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai nilai kegiatan ini," imbuh mereka.

INSS menambahkan, Korea Utara beroperasi "lebih sebagai perusahaan semi-kriminal dibanding negara-bangsa yang sah".

Selanjutnya: Kecemasan Perang Dunia 3: Korut akan uji coba nuklir saat pelantikan Joe Biden




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×