Potensi Resesi AS Akan Semakin Menekan Pasar Obligasi Negara Berkembang

Kamis, 14 Juli 2022 | 17:36 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Potensi Resesi AS Akan Semakin Menekan Pasar Obligasi Negara Berkembang

ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga ini memicu apresiasi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang. Hal ini semakin membawa kekhawatiran di pasar obligasi.


KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Amerika Serikat (AS) tengah berada di jurang resesi. Lonjakan inflasi direspons dengan agresifitas kenaikan suku bunga acuan membuat ekonomi AS akan mengalami perlambatan.

Kenaikan suku bunga ini memicu apresiasi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang. Hal ini semakin membawa kekhawatiran di pasar obligasi. Pembayaran utang dengan dolar akan membengkak nilainya.

Utang rupee India telah terbukti paling sensitif terhadap penguatan dolar AS di masa lalu. Menurut studi Bloomberg, kali ini juga tidak akan berbeda.

Dalam setiap contoh, imbal hasil obligasi benchmark India naik rata-rata 11 basis poin dalam 10 hari sebelum suku bunga AS jangka panjang turun ke bawah suku bunga dengan tenor lebih pendek.

Baca Juga: 1 Euro Setara dengan 1 Dolar, Kejadian Pertama dalam 20 Tahun

Ancaman penurunan ekonomi AS merupakan risiko terbaru yang dihadapi pasar obligasi India setelah pelemahan rupee. Lonjakan inflasi mendorong imbal hasil benchmark ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada bulan Juni.

Pelambatan ekonomi AS dapat memperburuk tekanan dari arus keluar, setelah perusahaan fundĀ  global menjual surat utang selama lima bulan hingga Juni.

Wisnu Varathan, Kepala Ekonom dan Strategi Mizuho Bank Ltd di Singapura mengatakan, aksi jual tajam pada obligasi rupee mendominasi di awal karena refleks dengan arus modal keluar.

"Risiko penurunan terhadap mata uang emerging market di Asia berarti bahwa kepercayaan investor asing bisa menurun tajam." katanya seperti dikutip Bloomberg, Kamis (14/7).

Obligasi India telah menurun seiring dengan penurunan rupee yang kini telah mendekati rekor terendah terhadap dolar.

Prediksi pasar saat ini adalah 64% kemungkinan harga rupee akan melemah menjadi 82 per dollar AS dalam enma bulan ke depan dari sekitar 79,6 per dolar AS saat ini.

Lebih buruk lagi, imbal hasil obligasi sudah menghadapi tekanan ke atas karena Pemerintah India berusaha menjual obligasi senilai 14,3 triliun rupee atau setara US$ 180 miliar tahun fiskal ini.

Investor yang mengandalkan bantuan bank sentral mungkin kecewa setelah laporan dari Citi pekan lalu bahwa kelebihan likuiditas akan membatasi kemampuannya untuk melakukan pembelian obligasi secara langsung.

International Monetary Fund (IMF) melakukan studi tingkat kerentanan utang negara (sovereign debt vulnerability) atas 50 negara berkembang. Studi itu mengurutkan negara paling rentan berdasarkan empat indikator.

Indikator yang digunakan adalah tingkat imbal hasil dari surat utang negaranya, spread dari credit default swap 5 tahun (5Y-CDS), tingkat beban bunga (interest expense) terhadap produk domestik bruto (PDB), dan tingkat utang negara terhadap PDB.

Republik El Salvador berada di peringkat pertama atau menjadi negara berkembang dengan tingkat kerentanan utang negara paling tinggi. Negara ini memiliki imbal hasil surat utang 31,8%, beban bunga 4,9% terhadap PDB, dan utang 82,6% terhadap PDB.

Setelah El Salvador, negara-negara yang berada di posisi selanjutnya adalah Ghana, Tunisia, Pakistan, Mesir, Kenya, Argentina, Ukraina, Bahrain, dan Namibia. Dari 10 negara tersebut, empat di antaranya berada di Benua Afrika dan tiga di Asia.

Indonesia menempati peringkat ke-34 dari 50 negara berkembang dalam hal tingkat kerentanan utang negara. Namun, dibandingkan dengan negara-negara Asean yang ada dalam daftar itu, Indonesia terbilang sebagai negara yang lebih rentan.

Baca Juga: Inilah Langkah yang Pertama Kali Dilakukan Warren Buffett saat Pasar Panik

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru