Presiden Equatorial Guinea Incar Masa Jabatan Tambahan Setelah Berkuasa 43 Tahun

Senin, 21 November 2022 | 13:05 WIB Sumber: Reuters
Presiden Equatorial Guinea Incar Masa Jabatan Tambahan Setelah Berkuasa 43 Tahun

ILUSTRASI. Presiden Equatorial Guinea Teodoro Obiang Nguema Mbasogo menghadiri sesi pleno Forum Perdamaian Paris, Prancis 12 November 2019. Ludovic Marin/Pool via REUTERS


KONTAN.CO.ID - DAKAR. Pemimpin negara terlama di dunia, Presiden Equatorial Guinea Teodoro Obiang, mengadakan pemilu presiden pada hari Minggu (20/11). Misinya kali ini adalah untuk memperpanjang jabatannya yang telah berlangsung selama 43 tahun.

Obiang optimis bisa kembali memenangkan pemilu kali ini. Obiang secara rutin sanggup memenangkan hingga 90% suara dalam lima edisi pemilu sebelumnya.

"Apa yang Anda tabur adalah apa yang Anda tuai. Saya yakin kemenangan adalah untuk Partai Demokrat Equatorial Guinea (PDGE)," katanya, seperti dikutip Reuters.

Lebih dari 400.000 terdaftar menjadi pemilih dari total populasi sekitar 1,5 juta orang. Pemilih juga akan memberikan suara untuk menentukan 100 anggota parlemen untuk majelis rendah, 55 dari 70 senator negara, dan walikota setempat.

Baca Juga: Diwarnai Isu Suap, Pasar Taruhan Piala Dunia 2022 Tetap Unggulkan Ekuador

Obiang merebut kekuasaan dari pamannya dalam kudeta pada tahun 1979 dan saat ini memantapkan diri menjadi pemimpin negara dengan masa jabatan terlama di dunia.

Dalam pemilu kali ini Obiang berhadapan dengan dua tokoh oposisi. Pertama, ada Buenaventura Monsuy Asumu yang telah mencalonkan diri dalam lima pemilihan sebelumnya. Kedua, ada Andrés Esono Ondo yang baru mencalonkan diri untuk pertama kalinya.

Dalam wawancaranya dengan Reuters, Esono Ondo menyebut pemilu kali ini penuh dengan penipuan dan berencana menantang hasilnya di pengadilan.

"Beberapa pemungutan suara yang adil terjadi di ibu kota pulau Malabo, tetapi partai kami memiliki bukti bahwa pejabat di tempat lain memberikan suara atas nama pemilih atau memaksa mereka untuk memilih partai yang berkuasa," ungkap Esono Ondo.

Tanda-tanda kecurangan pun telah dilihat oleh seorang analis senior Afrika di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Maja Bovcon.

Baca Juga: 94 Negara Setuju Rusia Harus Ganti Rugi Perang di Ukraina, Moskow Marah Besar

Dalam pengamatannya, telah banyak aksi kejahatan yang dilakukan pihak Obiang untuk mempertahankan kekuasaannya selama hampir lima dekade.

"Penutupan perbatasan dan pelecehan serta penangkapan pendukung oposisi telah membuka jalan bagi perpanjangan kekuasaan Obiang yang telha berlangsung 43 tahun," kata Bovcon kepada Reuters.

Dalam penutupan kampanyenya hari Jumat (18/11), Obiang mengatakan dia memutuskan untuk memajukan pemilihan presiden beberapa bulan dan mengadakannya bersamaan dengan pemilihan legislatif dan kota demi menghemat uang karena krisis ekonomi.

Sebagai anggota OPEC, minyak dan gas menyumbang sekitar tiga perempat pendapatan Equatorial Guinea. Sayangnya, produksi mulai berkurang beberapa tahun terakhir.

Produksi minyak Equatorial Guinea turun dari sekitar 160.000 barel per hari (bph) menjadi hanya 93.000 bph. Ladang minyak yang semakin berumur disebut jadi salah satu faktor berkurangnya produksi minyak

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru