Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Pemblokiran WhatsApp terjadi setelah berbulan-bulan tekanan terhadap platform asing, termasuk langkah sebelumnya terhadap YouTube dan Telegram. Financial Times mencatat bahwa platform Meta lainnya, seperti Facebook dan Instagram, juga telah dihapus dari direktori pemerintah dan kini sulit diakses di Rusia tanpa VPN. The Guardian juga melaporkan bahwa Snapchat diblokir dan layanan FaceTime milik Apple dibatasi pada akhir tahun lalu.
Secara bersamaan, Rusia mempromosikan MAX sebagai platform pesan resmi nasional. Aplikasi ini dimiliki oleh VKontakte (VK), jejaring sosial yang terkait dengan lingkaran dalam Putin. MAX disebut meniru konsep WeChat di China dan bahkan sudah terpasang secara default di ponsel baru.
Pejabat Rusia membela MAX sebagai aplikasi praktis yang menggabungkan berbagai layanan negara dalam satu platform. Mereka menepis kekhawatiran soal pengawasan sebagai tidak berdasar.
Namun, laporan Komisi Helsinki AS pada Desember 2025 menggambarkan MAX sebagai “superapp” yang berpotensi memberi otoritas akses luas terhadap lokasi, pesan, dan aktivitas internet pengguna. Laporan itu menyebut pendekatan ini sebagai cara “biaya rendah” untuk melakukan sensor dan pengawasan, dengan memadukan tekanan fisik seperti penggeledahan dan penangkapan dengan alat digital untuk mengontrol kehidupan online warga.
Tonton: Langkah Penting Mencegah Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Dalam Kandungan
Tekanan juga meningkat terhadap Telegram. Rusia baru-baru ini memperlambat lalu lintas Telegram, memicu keluhan dari pasukan garis depan di Ukraina dan blogger pro-perang yang mengandalkan aplikasi tersebut untuk peringatan serangan.
“Membatasi kebebasan warga bukanlah jawaban yang benar,” kata pendiri Telegram, Pavel Durov.
“Telegram berdiri untuk kebebasan berbicara dan privasi, apa pun tekanannya,” ujar Durov, seperti dikutip Financial Times.













