kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.867   24,00   0,14%
  • IDX 8.219   -46,79   -0,57%
  • KOMPAS100 1.159   -9,20   -0,79%
  • LQ45 830   -8,91   -1,06%
  • ISSI 295   -1,13   -0,38%
  • IDX30 433   -3,16   -0,73%
  • IDXHIDIV20 517   -3,83   -0,74%
  • IDX80 129   -1,09   -0,83%
  • IDXV30 143   -0,18   -0,13%
  • IDXQ30 140   -1,43   -1,02%

Privasi Digital: Rusia Resmi Blokir WhatsApp, Ada Apa?


Jumat, 13 Februari 2026 / 04:40 WIB
Privasi Digital: Rusia Resmi Blokir WhatsApp, Ada Apa?
ILUSTRASI. Pemerintah Rusia resmi memblokir WhatsApp untuk 100 juta lebih penggunanya. Simak alasan di balik langkah mengejutkan ini dan dampaknya. (KONTAN/Barratut Taqiyyah)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Tirai digital semakin tertutup di Rusia. Pemerintah Rusia resmi memblokir WhatsApp, aplikasi pesan paling populer di negara itu selama bertahun-tahun dengan lebih dari 100 juta pengguna. Mulai pekan ini, WhatsApp dihapus dari direktori internet nasional Rusia.

Melansir Straight Arrow News, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan langkah ini diambil karena Meta, perusahaan induk WhatsApp, menolak mematuhi hukum Rusia terkait berbagi data dan penghapusan konten. 

Pemerintah kini mendorong warga untuk beralih ke aplikasi alternatif milik negara bernama MAX, yang disebut sebagai “national messenger” dan dimiliki oleh perusahaan yang terkait dengan lingkaran dekat Presiden Vladimir Putin.

“Terkait pemblokiran WhatsApp, regulator kami memang telah mengumumkan keputusan tersebut dan melaksanakannya karena keengganan Meta untuk mematuhi aturan dan ketentuan hukum Rusia,” kata Peskov kepada media pemerintah Rusia.

Baca Juga: Perusahaan Saudi dan AS Akan Bermitra Dalam Proyek Energi di Suriah Timur

Peran Penting WhatsApp di Rusia

The Guardian mengaitkan langkah ini dengan upaya Rusia membangun konsep “sovereign internet”, yakni sistem komunikasi yang lebih mandiri dari platform Barat dan berada di bawah kendali negara.

Otoritas Rusia menghapus WhatsApp dari direktori online yang dikelola Roskomnadzor, regulator internet Rusia. Akibatnya, nama domain yang terkait dengan WhatsApp juga dihapus dari registri domain nasional. Hal ini membuat perangkat di Rusia tidak lagi menerima alamat IP WhatsApp, sehingga aplikasi hanya bisa diakses melalui VPN.

Alasan Moskow dan Tanggapan WhatsApp

Peskov mengatakan WhatsApp bisa dipulihkan jika Meta mau bekerja sama dengan otoritas Rusia. Namun, ia menegaskan tidak ada peluang jika perusahaan tersebut tetap “tidak mau berkompromi”.

Di sisi lain, WhatsApp menyatakan bahwa pemerintah Rusia berupaya memblokir total layanan mereka untuk mendorong pengguna ke aplikasi yang disebutnya sebagai “aplikasi pengawasan milik negara”. WhatsApp berjanji akan melakukan segala upaya untuk tetap menjaga konektivitas pengguna.

“Upaya mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi pribadi dan aman adalah langkah mundur dan hanya akan membuat warga Rusia menjadi kurang aman,” ujar WhatsApp dalam pernyataannya.

Reuters melaporkan bahwa otoritas Rusia sebelumnya telah menetapkan Meta sebagai organisasi ekstremis. Perusahaan tersebut juga telah didenda karena menolak menghapus konten terlarang serta menolak membagikan data pengguna dalam penyelidikan terkait penipuan dan terorisme. Roskomnadzor sendiri mulai membatasi WhatsApp sejak musim panas lalu, termasuk membuat layanan panggilan suara tidak berfungsi, sebelum menerapkan pembatasan yang lebih ketat pada Desember.

Baca Juga: Pasar Kripto Extreme Fear, JPMorgan Justru Bullish di 2026! Cek Alasannya

Dari Pemblokiran WhatsApp ke “National Messenger”

Pemblokiran WhatsApp terjadi setelah berbulan-bulan tekanan terhadap platform asing, termasuk langkah sebelumnya terhadap YouTube dan Telegram. Financial Times mencatat bahwa platform Meta lainnya, seperti Facebook dan Instagram, juga telah dihapus dari direktori pemerintah dan kini sulit diakses di Rusia tanpa VPN. The Guardian juga melaporkan bahwa Snapchat diblokir dan layanan FaceTime milik Apple dibatasi pada akhir tahun lalu.

Secara bersamaan, Rusia mempromosikan MAX sebagai platform pesan resmi nasional. Aplikasi ini dimiliki oleh VKontakte (VK), jejaring sosial yang terkait dengan lingkaran dalam Putin. MAX disebut meniru konsep WeChat di China dan bahkan sudah terpasang secara default di ponsel baru.

Pejabat Rusia membela MAX sebagai aplikasi praktis yang menggabungkan berbagai layanan negara dalam satu platform. Mereka menepis kekhawatiran soal pengawasan sebagai tidak berdasar.

Namun, laporan Komisi Helsinki AS pada Desember 2025 menggambarkan MAX sebagai “superapp” yang berpotensi memberi otoritas akses luas terhadap lokasi, pesan, dan aktivitas internet pengguna. Laporan itu menyebut pendekatan ini sebagai cara “biaya rendah” untuk melakukan sensor dan pengawasan, dengan memadukan tekanan fisik seperti penggeledahan dan penangkapan dengan alat digital untuk mengontrol kehidupan online warga.

Tonton: Langkah Penting Mencegah Risiko Penyakit Jantung Bawaan Sejak Dalam Kandungan

Tekanan juga meningkat terhadap Telegram. Rusia baru-baru ini memperlambat lalu lintas Telegram, memicu keluhan dari pasukan garis depan di Ukraina dan blogger pro-perang yang mengandalkan aplikasi tersebut untuk peringatan serangan.

“Membatasi kebebasan warga bukanlah jawaban yang benar,” kata pendiri Telegram, Pavel Durov.

“Telegram berdiri untuk kebebasan berbicara dan privasi, apa pun tekanannya,” ujar Durov, seperti dikutip Financial Times.

Selanjutnya: Asuransi Jiwa Mencari Celah Demi Perbaiki Kinerja

Menarik Dibaca: Promo JSM Superindo 13-15 Februari 2026, Jeruk Mandarin-Stroberi Korea Diskon s/d 40%




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×