Produksi Chip Samsung Terhambat karena Sopir Truk Perusahaan Mogok Kerja

Selasa, 14 Juni 2022 | 10:59 WIB Sumber: Reuters
Produksi Chip Samsung Terhambat karena Sopir Truk Perusahaan Mogok Kerja

ILUSTRASI. Anggota serikat Solidaritas Pengemudi Truk Kargo menghadiri protes di Ulsan, Korea Selatan, 10 Juni 2022. REUTERS/Byungwook Kim/File Photo


KONTAN.CO.ID - SEOUL. Samsung Electronics mengalami hambatan produksi chip di pabrik China karena sopir truk mereka melakukan mogok kerja di Korea Selatan. Kondisi ini praktis menghalangi ekspor bahan utama produksi di China.

Asosiasi Perdagangan Internasional Korea (KITA) pada hari Selasa (14/6) melaporkan, perusahaan Korea yang memproduksi isopropil alkohol (IPA), bahan baku untuk membersihkan chip, menghadapi gangguan pengiriman ke perusahaan Samsung di China.

Dalam laporannya, KITA mengatakan sekitar 90 ton, atau pengiriman senilai satu minggu telah tertunda.

Baca Juga: Perusahaan Sawit hingga Chip Malaysia Terpaksa Menolak Pesanan karena Krisis Pekerja

Pabrik Samsung di China menghasilkan chip memori flash NAND, yang digunakan untuk penyimpanan data di pusat data, ponsel pintar, dan gawai lainnya. Pabrik ini terletak di Xian, Cina.

Dilansir dari Reuters, serikat pekerja memprotes kenaikan harga bahan bakar dan menuntut jaminan upah minimum. Empat putaran negosiasi dengan pemerintah gagal menemukan kompromi.

Serikat pengemudi truk mengatakan bahwa mereka akan melanjutkan pemogokan umum dan mengutuk kementerian transportasi karena tidak mau berbicara atau tidak mampu menyelesaikan situasi saat ini.

Baca Juga: Lawan Inflasi, AS Pertimbangkan Cabut Beberapa Tarif China

Pabrik Samsung di Xian telah mengalami gangguan produksi sejak awal tahun ini karena adanya pembatasan aktivitas terkait Covid-19. Akibatnya, harga chip NAND secara global telah melonjak.

Melalui pabriknya di Xian, Samsung sukses menyumbang sekitar 43% dari total kapasitas produksi memori flash NAND dan 15% dari keseluruhan kapasitas output global.

Pemogokan kerja para sopir truk perusahaan, yang telah berlangsung seminggu, ditaksir telah merugikan sektor industri Korea Selatan lebih dari US$1,2 miliar karena terhentinya produksi dan pengiriman bahan baku.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru