CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Riset Terbaru, Omicron Bertahan Lebih Lama pada Plastik dan Kulit Manusia


Rabu, 26 Januari 2022 / 05:51 WIB
Riset Terbaru, Omicron Bertahan Lebih Lama pada Plastik dan Kulit Manusia
ILUSTRASI. Omicron dapat bertahan lebih lama dari versi sebelumnya pada permukaan plastik dan kulit manusia. REUTERS/Dado Ruvic


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Berikut ini merupakan rangkuman beberapa penelitian terbaru tentang Covid-19. 

1. Omicron bertahan lebih lama pada plastik dan kulit

Peneliti Jepang menemukan dalam tes laboratorium, varian Omicron dapat bertahan lebih lama dari versi sebelumnya pada permukaan plastik dan kulit manusia.

"Stabilitas lingkungan" yang tinggi - kemampuannya untuk tetap menular - mungkin telah membantu Omicron menggantikan Delta sebagai varian dominan dan menyebar dengan cepat, kata mereka. 

Pada permukaan plastik, waktu bertahan hidup rata-rata strain asli dan varian Alpha, Beta, Gamma dan Delta masing-masing adalah 56 jam, 191,3 jam, 156,6 jam, 59,3 jam, dan 114,0 jam. Coba bandingkan dengan Omicron yang mampu bertahan selama 193,5 jam. 

Pada sampel kulit dari mayat, waktu bertahan virus rata-rata adalah 8,6 jam untuk versi asli Covid-19, 19,6 jam untuk Alpha, 19,1 jam untuk Beta, 11,0 jam Gamma, 16,8 jam untuk Delta dan 21,1 jam untuk Omicron.

Baca Juga: Luhut: Gejala Omicron Sulit Dibedakan, Segera Testing Bila Alami Flu Meski Ringan

Pada kulit manusia, semua varian benar-benar tidak aktif dengan 15 detik paparan pembersih tangan berbasis alkohol. 

"Oleh karena itu, sangat disarankan agar terus dilakukan praktik pengendalian infeksi (kebersihan tangan) saat ini menggunakan disinfektan... seperti yang diusulkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia," jelas peneliti.

2. Usap hidung paling baik untuk tes antigen cepat

Penelitian baru menunjukkan, Pengguna tes antigen cepat untuk mendeteksi Covid-19 harus menyeka lubang hidung, bukan menyeka tenggorokan atau pipi sebagai gantinya.

Pada awal bulan ini, dengan Omicron bertanggung jawab atas hampir semua infeksi virus corona di San Francisco, para peneliti di sana melakukan tes antigen cepat BinaxNOW PCR dan Abbott Laboratories pada 731 orang yang meminta tes COVID-19. 

"Usap hidung mendeteksi lebih dari 95% orang dengan tingkat virus tertinggi yang kemungkinan besar menular," kata Dr. Diane Havlir dari University of California, San Francisco. 

Baca Juga: Data Corona Indonesia, 25 Januari: Tambah 4.878 Kasus Baru, Ada 24.856 Kasus Aktif

Pada 115 sukarelawan dengan tes PCR positif, timnya membandingkan hasil BinaxNOW menggunakan sampel usap dari hidung dan tenggorokan yang diperoleh oleh para profesional terlatih. 

Usap tenggorokan mendeteksi kasus hampir 40% lebih sedikit daripada usap hidung. Sebuah studi terpisah dari Spanyol, juga diposting di medRxiv, menemukan bahwa usap bagian dalam pipi juga jauh kurang dapat diandalkan daripada usap lubang hidung untuk mendeteksi virus menular. 

Studi terbaru menunjukkan bahwa Omicron terdeteksi lebih awal di tenggorokan daripada di hidung, sehingga beberapa ahli menyarankan pengguna untuk menyeka tenggorokan, meskipun Food and Drug Administration AS mempertahankan tes harus digunakan sesuai petunjuk.

"Data ini mendukung penggunaan BinaxNOW dari usap hidung sesuai petunjuk pada paket," kata Havlir. "Pengujian cepat berulang direkomendasikan untuk mereka yang memiliki tes cepat BinaxNOW negatif dan gejala atau paparan" pada orang yang terinfeksi.

Baca Juga: Waspada Omicron di Indonesia! Penularan Lokal Mulai Mendominasi Kasus

3. Fasilitas perawatan jangka panjang tidak terlalu terpukul oleh Omicron

Hasil riset menunjukkan, pasien di fasilitas perawatan jangka panjang yang sangat rentan umumnya mengalami penyakit yang lebih ringan dari Omicron daripada versi virus corona sebelumnya.

Para peneliti di Inggris membandingkan tingkat rawat inap pada 333 penghuni fasilitas kesehatan sebelum dan sesudah varian Omicron menjadi dominan. 
Di antara 398 penduduk yang terinfeksi sebelum munculnya Omicron, 10,8% memerlukan rawat inap, dibandingkan dengan 4% dari 1.241 yang terinfeksi Omicron. Rata-rata usia penduduk yang terinfeksi adalah 85 tahun. 

Baca Juga: Mengurangi Penyebaran Covid-19 di Hotel dan Restoran, ILO Menggandeng APHI dan Apindo

Setelah memperhitungkan faktor risiko lain, kemungkinan rawat inap adalah 50% lebih rendah untuk pasien yang terinfeksi pada periode Omicron, para peneliti melaporkan pada hari Minggu di medRxiv sebelum peer review. 

"Secara keseluruhan, keparahan yang sangat menurun dikombinasikan dengan penyerapan vaksinasi yang tinggi dan infeksi alami sebelumnya dapat diharapkan secara signifikan membatasi dampak gelombang infeksi Omicron saat ini pada rawat inap dan kematian pada penghuni fasilitas perawatan jangka panjang," tegas para peneliti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×