Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia akan memperpanjang larangan ekspor bahan bakar diesel atau solar hingga akhir 2026. Meski demikian, pemerintah Moskow akan mengizinkan sejumlah perusahaan tetap mengekspor solar melalui sistem kuota untuk memenuhi komitmen pasokan baru ke Amerika Serikat (AS).
Dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters pada Kamis (29/10/2026), kebijakan ini ditempuh di tengah pemulihan produksi kilang minyak Rusia dan upaya pemerintah menjaga pasokan bahan bakar domestik.
Moskow dan Washington sebelumnya menyepakati kesepakatan pasokan solar setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump melakukan pembicaraan melalui telepon pada awal Oktober.
Kesepakatan tersebut diumumkan bersamaan dengan gencatan serangan terhadap sektor energi antara Rusia dan Ukraina. Kondisi ini memungkinkan Rusia meningkatkan produksi bahan bakar setelah aktivitas kilang minyak sebelumnya terganggu oleh serangan pesawat nirawak atau drone.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Pasar Masih Menanti Arah Suku Bunga The Fed
Di sisi lain, kelangkaan bahan bakar yang terjadi pada awal tahun membuat pemerintah Rusia tetap mempertahankan pengendalian ketat terhadap ekspor produk minyak.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada Selasa (27/10/2026) mengatakan, tiga kapal tanker yang mengangkut solar Rusia menuju pasar ekspor telah berlayar. Kapal tanker keempat dijadwalkan berangkat pada 28 Oktober.
Novak juga menyebut kilang-kilang minyak Rusia pulih dengan cepat setelah menjalani perbaikan. Menurut sumber Reuters, tingkat pemanfaatan kapasitas kilang meningkat 25% pada akhir Oktober dibandingkan awal bulan, seiring meredanya serangan drone terhadap fasilitas pengolahan minyak.
Rusia Naikkan Kuota Ekspor Solar pada November
Di bawah kebijakan larangan ekspor solar yang berlaku saat ini, pemerintah Rusia masih mengizinkan ekspor dalam jumlah terbatas melalui mekanisme kuota.
Dua sumber tersebut mengatakan kuota ekspor solar Rusia pada November akan meningkat empat kali lipat dibandingkan Oktober, menjadi 2 juta metrik ton atau setara dengan sekitar 500.000 barel per hari.
Pengiriman bahan bakar yang dilakukan berdasarkan perjanjian antarpemerintah yang telah berlaku juga akan tetap berjalan.
Kementerian Energi Rusia tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang diajukan Reuters.
Baca Juga: AS Larang Laboratorium China Uji Smartphone hingga Komputer, Berlaku Desember 2028
Larangan ekspor solar Rusia saat ini dijadwalkan berakhir pada 31 Oktober 2026. Namun, pemerintah berencana memperpanjang kebijakan tersebut hingga penghujung tahun dengan tetap memberikan pengecualian kepada sejumlah perusahaan.
Pada Oktober, pemerintah Rusia telah membebaskan beberapa perusahaan pengilangan dari larangan ekspor dan memberikan kuota dengan total 500.000 ton, menurut sumber Reuters.
Keputusan pemerintah baru yang diperkirakan terbit pada awal November akan memperluas daftar perusahaan pengilangan yang memperoleh pengecualian sekaligus menetapkan batas ekspor baru.
Sumber tersebut menambahkan, apabila kuota yang diberikan habis dalam waktu singkat, pemerintah Rusia dapat mempertimbangkan untuk kembali meningkatkan batas ekspor solar.
Rusia memiliki kapasitas produksi solar yang secara nominal sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan konsumsi domestiknya.














