kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Rusuh pasca tewasnya George Floyd paling brutal setelah pembunuhan Martin Luther King


Rabu, 03 Juni 2020 / 08:10 WIB


Sumber: BBC | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - CALIFORNIA/LONDON.  Sejumlah jam malam diberlakukan di beberapa kota di Amerika Serikat (AS). Jam malam pasca kerusuhan dan unjuk rasa menyebar  terkait kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd saat ditangkap polisi.

Sebagian besar unjuk rasa ini berlangsung damai. Tapi ada beberapa di negara bagian,pengunjuk rasa terlibat bentrok dengan polisi, membakar mobil-mobil polisi, merusak properti atau menjarah toko-toko.  Garda Nasional mengerahkan 5.000 personelnya di 15 negara bagian dan Washington DC.

Para ahli membandingkan, dengan kerusuhan di Inggris pada tahun 2011 silam. Ketika aksi damai terkait kematian seorang pria yang ditembak polisi berubah menjadi kericuhan selama empat hari, disertai penjarahan besar-besaran dan gedung-gedung yang dibakar. 

Insiden seperti kematian Floyd bisa menjadi momentum pemicu karena mewakili pengalaman yang lebih luas di antara banyak orang. Tentang hubungan antara polisi dan komunitas kulit hitam," kata Profesor Clifford Stott, ahli yang mempelajari perilaku kerumunan dan ketertiban umum di Universitas Keele, Inggris, mengutip BBC, Selasa (2/6)




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×