kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 17.923   -10,00   -0,06%
  • IDX 6.082   50,75   0,84%
  • KOMPAS100 784   8,51   1,10%
  • LQ45 600   6,66   1,12%
  • ISSI 213   1,38   0,65%
  • IDX30 334   3,43   1,04%
  • IDXHIDIV20 427   4,44   1,05%
  • IDX80 89   0,92   1,03%
  • IDXV30 116   0,79   0,68%
  • IDXQ30 109   1,21   1,12%

Saham Bank Singapura Tertekan, Indeks Acuan Mendekati Level Terendah 3 Bulan


Jumat, 09 Oktober 2026 / 12:53 WIB
Saham Bank Singapura Tertekan, Indeks Acuan Mendekati Level Terendah 3 Bulan
ILUSTRASI. Bursa Saham Singapura - SGX (REUTERS/Edgar Su)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia Tenggara bergerak bervariasi pada Jumat (9/10/2026), di tengah pemulihan terbatas pasar saham negara berkembang Asia setelah aksi jual pada sesi sebelumnya.

Namun, saham-saham Singapura masih tertekan dan mendekati level terendah dalam tiga bulan akibat kekhawatiran terhadap prospek laba perbankan dan kenaikan imbal hasil obligasi.

Mengutip Reuters, indeks saham negara berkembang Asia MSCI naik tipis 0,2% setelah terkoreksi hampir 2% pada Kamis (8/10/2026).

Perdagangan saham Korea Selatan dan Taiwan, yang secara gabungan menyumbang lebih dari separuh indeks tersebut, ditutup karena libur nasional.

Baca Juga: Pimco Peringatkan Yield Obligasi AS Bisa Tembus 6% untuk Pertama Kali Sejak 2000

Sebaliknya, indeks acuan saham Singapura sempat melemah hingga 0,8% sebelum memangkas kerugian menjadi 0,2% pada tengah hari.

Indeks tersebut berada di level terendah sejak awal Juli dan berpotensi mencatat penurunan mingguan lebih dari 4%. Jika terealisasi, pelemahan itu menjadi yang terburuk sejak April 2025.

Tekanan terutama datang dari saham perbankan. DBS Group, bank terbesar di Asia Tenggara, turun 1,8% ke level terendah dalam hampir tiga bulan. United Overseas Bank (UOB) terkoreksi 2,1%, sedangkan Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) memangkas sebagian besar kerugiannya dan diperdagangkan turun 0,1%.

Ketiga bank tersebut menyumbang lebih dari separuh bobot indeks acuan Singapura. Dalam dua sesi perdagangan terakhir, kapitalisasi pasar gabungan mereka telah menyusut lebih dari US$ 26 miliar.

Pelemahan saham bank-bank Asia Tenggara terjadi setelah JPMorgan dan Citi menyoroti risiko terhadap prospek laba perbankan ASEAN.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1,1% Jumat (9/10), Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed

Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang, biaya pendanaan yang lebih tinggi, serta normalisasi pendapatan terkait bisnis pengelolaan kekayaan menjadi sejumlah faktor yang membayangi kinerja bank.

Analis ekuitas Morningstar Kathy Chan mengatakan, fundamental ketiga bank Singapura tersebut masih solid. Namun, ekspektasi pasar terhadap kinerja mereka kemungkinan sudah cukup tinggi.

Chan memperkirakan aliran dana baru dari nasabah pengelolaan kekayaan dan aktivitas transaksi nasabah yang terkait pasar masih akan terjaga.

Meski demikian, momentum pertumbuhan pendapatan dari bisnis pengelolaan kekayaan dan perdagangan berpotensi melambat dibandingkan kinerja kuat pada semester I-2026 karena basis pembanding yang lebih tinggi.

Baca Juga: AS Sita Tujuh Domain Internet untuk Ganggu Infrastruktur Peretas China

Ketiga bank tersebut dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal III-2026 pada November mendatang.

Tekanan juga terlihat pada saham perbankan di negara lain. CIMB Group Malaysia sempat turun 0,7% dan memperpanjang pelemahan selama empat sesi berturut-turut.

Sementara itu, Kasikornbank Thailand merosot 1,7% ke level terendah sejak awal Juli.

Meski demikian, pelemahan saham perbankan tidak menghambat penguatan pasar secara keseluruhan. Indeks saham Kuala Lumpur naik 0,6%, sedangkan indeks Bangkok menguat 0,5%.

Di pasar valuta asing, peso Filipina menguat sekitar 0,2% setelah menyentuh rekor terendah 63,059 per dollar AS pada sesi sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Turun setelah Trump Isyaratkan Dialog dengan Iran

Sepanjang tahun ini, peso telah melemah lebih dari 6% di tengah tekanan inflasi yang persisten dan kenaikan imbal hasil obligasi.

Yield obligasi pemerintah Filipina tenor 10 tahun bahkan telah menembus 8%, mengikuti tekanan jual yang juga terjadi di pasar obligasi global.

Ekonom senior DBS Radhika Rao menilai, kondisi pasar masih menantang bagi aset-aset Filipina.

Pelemahan peso dan tingginya yield obligasi mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi serta keseimbangan makroekonomi negara tersebut.

Menurut Rao, tekanan inflasi yang berpotensi bertahan lebih lama meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada kuartal IV-2026.

Baca Juga: Rusia Genjot Pengiriman Gandum via Baltik, Pasokan ke Indonesia Berpotensi Terkendala

DBS mempertahankan proyeksi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober dan menambahkan proyeksi kenaikan lanjutan dengan besaran serupa pada Desember.

Sementara itu, sebagian besar mata uang regional lainnya bergerak terbatas terhadap dollar AS. Baht Thailand menjadi salah satu yang menguat, dengan kenaikan sekitar 0,3%. Indeks mata uang negara berkembang MSCI tercatat relatif datar pada perdagangan Asia.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×